*oleh Mhd. Saifullah
Aceh merupakan provinsi yang pernah dijuluki sebagai daerah modal bangsa Indonesia. Julukan itu diberikan setelah melihat kegigihan rakyat Aceh berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949) dalam menghadapi gangguan Belanda yang ingin kembali menjajah. Hal ini membuat Presiden Soekarno salut dan memberikan gelar tersebut langsung dari bibir untuk Aceh sewaktu berpidato di Blang Padang, 16 Juni 1948.
Saya sengaja mengatakan Aceh pernah dijuluki sebagai daerah modal. Hal ini karena tidak adanya bukti-bukti berupa monumen yang menandakan bahwa daerah ini adalah modal bangsa Indonesia. Yang ada hanya monumen mengenai sumbangan rakyat Aceh kepada rakyat Indonesia, salah satunya Monumen Pesawat Dakota RI-001 di Blang Padang. Padahal modal yang sesungguhnya diberikan oleh rakyat Aceh bukanlah hanya sumbangan berupa barang semata, tetapi darah dan nyawa. Itulah modal utama yang diberikan para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia selama 1945-1949.
Mengapa pertempuran di front Medan Area lebih dikenal dari Aceh? Bukankah pasukan yang dikirim ke Medan Area adalah para pejuang dari Aceh? Hal ini dikarenakan adanya monumen yang menjadi bukti perjuangan dalam pertempuran tersebut. Di sepanjang jalan dari Langkat sampai ke Medan kita bisa melihat begitu banyaknya monumen yang berdiri dan menghiasi setiap persimpangan.
Bulan Juli kemarin, saya mengunjungi seorang Purnawirawan Militer Angkatan 45 bernama Teuku Alibasya Talsya, dan sedikit berdiskusi mengenai peran rakyat Aceh pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Beliau banyak bercerita mengenai beberapa pengalamannya di masa itu. Sewaktu bercerita, raut wajah beliau sesekali terlihat sangat sedih dan terkadang gembira.
Raut wajah sedih tampak pada saat beliau menceritakan bagaimana keadaan mereka sewaktu Belanda melakukan serangan melalui udara dan kegigihan mereka saat berperang. Sedangkan raut wajah gembira ditunjukan sewaktu menceritakan kemenangan yang diraih saat melawan propaganda Belanda di dunia internasional melalui radio yang mereka gunakan hingga menjadikan Indonesia merdeka seutuhnya. Ini karena peristiwa yang dialami beliau pada saat itu sungguh tidak dapat dibayangkan oleh kita saat ini yang telah menikmati kemerdekaan.
Pada diskusi tersebut beliau mengatakan, Aceh merupakan daerah modal, apabila pada saat itu Ibu Kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tidak dipindahkan ke Aceh, maka Indonesia sudah dianggap tidak ada. Karena selain Aceh, seluruh daerah Indonesia lainnya sudah dikuasai oleh Belanda.
Pemberian julukan Aceh sebagai daerah modal langsung dikatakan oleh Presiden Soekarno pada pidatonya di Blang Padang tanggal 16 Juni 1948,Wahai anak-anak ku rakyat Aceh, hari ini bapakmu berkata tulus dari dalam hati. Tanpa Aceh, Indonesia tidak akan pernah ada. Aceh adalah daerah modal. Hanya Aceh yang masih tersisa dan dimiliki Bangsa Indonesia untuk saat ini, ungkap beliau sambil meniru gaya pidato Soekarno.