BANYAK situs sejarah Aceh saat ini hilang tak berbekas. Dokumen-dokumen catatan sejarahnya juga raib atau dipalsukan. Padahal, Aceh sudah memiliki peradaban yang maju, jauh sebelum Belanda menjadi sebuah negara pada 26 Juli 1581, atau sebelum Amerika Serikat mendeklarasikan negaranya pada 4 Juli 1776. Konon lagi jika dibandingkan Indonesia yang usianya belum mencapai satu abad.
Hilangnya jejak peradaban ini diduga dilatarbelakangi oleh konflik berkepanjangan yang melanda Aceh dalam satu abad terakhir. Dimulai dari deklarasi perang Belanda terhadap Aceh pada 26 Maret 1873, kerusakan peradaban Aceh mulai hilang satu persatu. Pertama kali Belanda menginjakkan kakinya di Bumi Serambi Mekkah, bangunan Masjid Raya Baiturrahman milik Kerajaan Aceh Darussalam dibakar. Penghilangan bukti keagungan Kerajaan Aceh Darussalam kemudian disusul dengan penghancuran Darud Donya, yang merupakan istana Kesultanan Aceh. Tak hanya itu, Belanda juga mengganti nama ibukota kerajaan Aceh dari Bandar Aceh Darussalam menjadi Koeta Radja.
Penghilangan bukti sejarah kegemilangan Aceh tidak berhenti di situ saja. Belanda kemudian menyasar kitab-kitab dan sarakata milik kesultanan, hingga membakar dayah-dayah yang ada di Aceh. Begitu pula dengan alat perang Aceh, seperti meriam dan benda kebudayaan lainnya yang kemudian diboyong ke Amsterdam atau Batavia (Jakarta).
Kebencian Belanda terhadap Aceh tak berhenti disitu saja. Belanda juga menutupi akses warga ke makam para sultan Aceh dengan membangun tangsi militer di sekelilingnya. Tak tertutup kemungkinan ada beberapa struktur bangunan yang menyangkut ideologi kejayaan Aceh juga dihilangkan.
Upaya menghapus jejak sejarah Aceh tidak hanya berhenti semasa Belanda memerangi Aceh. Hingga pemerintahan modern berganti dari Amsterdam ke Jakarta, penghilangan bukti sejarah Aceh masih saja terjadi hingga kini. Baik secara sengaja atau tidak sengaja.
Medio 1990-an, misalnya. Menjelang abad milenium tersebut beberapa kompleks makam kuno masa Kerajaan Aceh Darussalam di kawasan Banda Aceh raib entah kemana. Sebut saja di antaranya seperti kompleks pemakaman kuno berdiwai yang diduga milik keluarga Kesultanan Aceh di Blang Padang, Banda Aceh. Jika merujuk peta Kaart van den Kraton met omstreken (Peta Kraton Darud Donya dengan daerah sekitarnya) terlihat ada tiga titik sebaran nisan di kawasan Blang Padang. Namun, kondisi Blang Padang jauh berbeda jika dilihat saat ini. Kini, Blang Padang berubah menjadi lapangan rumput tempat berolahraga dengan satu podium upacara di tengahnya. Sementara di sayap selatan lapangan tersebut dihiasi dengan satu monumen replika pesawat RI-001 yang menjadi modal Indonesia meraih kemerdekaannya. Tidak ada lagi kompleks nisan seperti yang terlihat di peta keluaran Belanda pada tahun 1874.
Teranyar, penghilangan jejak sejarah Aceh juga terjadi di kawasan situs sejarah Gampong Pande dan Gampong Jawa ikut disasar. Dalih pembangunan, kompleks makam para ulama dan sultan Aceh serta struktur masjid tua ditimbun dengan sampah masyarakat ibukota. Alih-alih menyelamatkan sejarah kegemilangan Aceh, pemerintah malah membuat kolam tinja di kawasan yang dulunya diduga menjadi kota tua di Selat Malaka tersebut.
Beruntung, generasi muda Aceh saat ini memiliki segelintir aktivis dan peneliti sejarah yang bisa disebut “abnormal”. Meski tidak mendapat dukungan dari pemerintah, baik dari segi anggaran maupun kebijakan, para penyelamat warisan para sultan Aceh ini terus bekerja siang dan malam untuk mengungkap tabir kelam sejarah daerah mereka. Bak Lara Croft di kisah Tomb Raider atau serupa Benjamin Franklin Gates di film National Treassure, mereka pun menjalani mission impossible untuk melacak sejarah yang sudah terkubur dalam seabad terakhir. Tentu saja tujuannya bukan untuk menjarah makam tetapi menyelamatkan sejarah yang terpendam. Banyak tantangan yang dihadapi selama proses penelitian, baik dari segi regulasi hingga provokasi para pihak terhadap para peneliti.
+++
SENIN, 4 September 2017 malam. Seorang pria paruh baya terlihat serius mengutak-atik laptop di depannya. Sementara beberapa orang lainnya terlihat mengapit kiri, kanan dan di belakang pria tersebut. Dia adalah Taqiyuddin Muhammad, Lc, salah satu epigraf lulusan Al-Azhar asal Aceh. Taqiyuddin bersama Tim Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) selama ini intens menggali bukti sejarah Aceh melalui batu nisan.
Tak hanya Taqiyuddin, di momen tersebut juga terlihat arkeolog independen lulusan Unversitas Gajah Mada (UGM), Deddy Satria. Pria bertubuh ceking ini turut melihat gambar batu nisan yang ada di laptop Taqiyuddin Muhammad. Begitupula dengan Mizuar Mahdi si Ketua Mapesa.
Dalam kesempatan tersebut, Taqiyuddin dan Deddy Satria turut memaparkan sejumlah temuan mereka terkait sejarah Aceh. Mereka juga memaparkan areal sebaran situs yang patut dilindungi seperti di Gampong Pande, kawasan Kraton (pendopo Gubernur Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman), Peukan Biluy, Gampong Meurah, Lamreh, dan beberapa tempat lainnya. Menurut Taqiyuddin di kawasan inilah diduga tempat para Sultan Aceh menetap tempo dulu. Jeut ta kheun nyan pusat kota pemerintahan. Na raja, na Sultan meninggai, kata Taqiyuddin.
Peneliti sejarah Islam Asia Tenggara ini menyebutkan hasil penelitian mereka selama ini belum mampu memunculkan bukti peradaban Bandar Aceh Darussalam. Dia mengatakan bahan yang dikumpulkan selama ini belum cukup untuk merekatkan puzzle-puzzle dan merekonstruksi bukti sejarah Aceh. Padahal bahan yang ada saat ini sudah menumpuk di gudang para peneliti. Belum cukup, butuh proses lama, kekuatan dan dana yang lebih besar. Jika hanya berharap pada Mapesa ini, abeh teuh. Teuset lidah Mapesa.
Deddy membenarkan apa yang disampaikan Taqiyuddin tersebut. Menurut dosen lepas bidang arkeologi ini setiap temuan arkeologi atau bukti sejarah baru, malah memunculkan tanda tanya yang baru. Cukop jai masalah, kata Deddy.
Baik Deddy maupun Taqiyuddin sangat berharap kepada semua pihak untuk ikut serta menggali sejarah peradaban Aceh yang sudah lama terkubur. Apalagi saat ini belum ada satupun kerangka masalah untuk menyatukan secara utuh sejarah Aceh Darussalam tersebut. Seperti bagaimana sejarah perdagangan masa kerajaan, bagaimana kehidupan para penduduk masa itu dan lain-lain. Para peneliti sejarah Aceh ini juga sepakat bahwa mengungkap tabir sejarah ini membutuhkan proses lama.
Namun, mereka sangat berharap para pihak untuk tidak mengganggu kawasan yang penting bagi arkeologis sejarah Aceh. Harapan ini bukan tanpa alasan, tetapi supaya semua hal terkait sejarah daerah ini bisa terungkap ke permukaan demi kepentingan ilmu pengetahuan bagi generasi muda Aceh. Untuk saat ini, hal paling mendesak apa, bek cukeh-cukeh. Di Gampong Pande misalnya, satu blok nyan, di likot jih, selatan Krueng Daroy, di barat Krueng Doe, di timurnya Krueng Aceh, di utara ka laot, kawasan ubee nyan, bek cukeh-cukeh. Bah meunan. Yang ka dicukeh, kakeuh sep et nan. Hai cit ka leu yang ka meucukeh, Gampong Baro cit ka meucukeh mandum dari masa Belanda. Yang leubeh gampang lom, dari Lampaseh Kota sampe Gampong Jawa, kon na yang areal terendam air payau nyan, nyan yang mantong tersisa nyan, bek cukeh-cukeh. Sampe tanyoe ta temukan kota yang hilang, baro ta cukeh, ujar Taqiyuddin.
Taqiyuddin mengatakan apabila pihak pemerintah tidak mempercayakan penelitian tersebut kepada Tim Mapesa atau peneliti independen, maka dia meminta penelitian ini dialihkan ke kampus yang ada di Aceh. Meskipun demikian, Taqiyuddin mengakui saat ini kampus di Aceh belum memiliki fakultas yang menangani secara spesifik tentang hal tersebut. Padahal wacana mendirikan Fakultas Arkeologi sudah lama dikampanyekan oleh para peneliti sejarah di Aceh. Permintaan ini mempertimbangkan dengan luasnya kajian arkeologis dan sejarah Aceh. Jumlah arkeolog di Aceh ini sangat minim untuk menangani seluruhnya. Padahal sejarah Aceh begitu luas. Aceh bukan cuma (sejarah) masa Islam saja, masa pra Islam juga ada, kata Taqiyuddin.
Taqiyuddin mengatakan banyak hal bermanfaat jika memang penelitian tentang sejarah Aceh ini mendapat dukungan pemerintah. Salah satunya adalah menguntungkan secara ekonomis. Dia menyebutkan dengan adanya temuan-temuan benda arkeologis dan sejarah Aceh maka daerah ini akan memikat wisatawan mancanegara dan peneliti internasional. Dengan demikian, pemasukan untuk daerah menjadi meningkat. Suatu ketika, situs-situs itu menjadi ATM (Anjungan Tunai Mandiri), kata Deddy.