Suasana pagi hari itu kian bersahaja, semua mahasiswa baru telah berkumpul di lapangan sepak bola kampus UIN Ar-Raniry. Ribuan mata, menikmati cerahnya matahari berbalut dengan udara pagi. Wajah-wajah baru para generasi muda bangsa, terpampang berseri.
Kemarin, Rabu, 31 Agustus 2016. Merupakan hari yang ketiga dari peristiwa bersejarah itu sudah berlalu, namun masih menyisakan banyak kenangan bagi penulis sendiri. Umumnya bagi mereka-mereka yang turut merasakan kejadian di hari yang sudah terlewati itu, mungkin.
Di pagi hari Minggu, yang bertanggal 28 Agustus 2016 kemarin. Ribuan mahasiswa baru UIN Ar-Raniry, angkatan 2016 mulai berbaris di dalam format yang sudah ditentukan. Adapun tulisan merdeka terbentuk, setelah semua mereka yang diposisikan berdiri ke dalam format tersebut.
Mereka terlihat diam seribu bahasa, dan ini merupakan kegiatan pemula di hari penutupan PBAK tersebut. Pembawa acarapun mulai membuka acara, walau mahasiswa baru itu masih melakukan aksi diam. Kegiatan di pagi hari yang kian bersahaja itu terus berlangsung.
Kata-kata sambutan untuk yang pertama sekali, jatuh kepada Teuku Burhanuddin. Ia merupakan ketua panitia dari acara, Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan yang akan ditutup secara resmi sesaat lagi. Karena hari itu adalah hari terakhir dari acara tersebut, di tahun ini.
Di kesempatannya itu, pemuda yang berbadan tegap agak brewokan tersebut. Mengatakan bahwa, peserta baru itu sengaja disusun ke dalam format yang menghasilkan tulisan merdeka. Dan mMaksudnya terhadap kata-kata merdeka yang terbentuk oleh kumpulan mahasiswa baru tersebut, ialah untuk segalanya.
Yang mana semua kita harus merdeka dalam pendidikan, pemikiran, pembodohan, merdeka dari korupsi, dari penjajah, kemiskinan dan pendapatan. Itulah maksud secara umum, dari kata-kata merdeka yang ia maksudkan.