Oleh Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Tanpa terasa bulan yang mulia ini sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Banyak hadist (hadis) yang menyebutkan tentang kelebihannya, walaupun hadis tersebut dhaif. Di antaranya, bersabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya dalam syurga itu ada sebatang sungai yang disebutkan sungai Rejab, airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu, sesiapa yang berpuasa satu hari pada Rajab, Allah akan memberinya minum daripada sungai itu. (HR. Imam al-Baihaqi).
Dalam Kifayah al-Akhyar karya SyekhTaqiyuddin Al Husni Abu Bakar Muhammad bin Husaini Al Husni Asy-syafii, beliau wafat pada tahun 829 Hijriah, telah menyebutkan bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan (Ramadan) adalah bulan-bulan haram yaitu Dzulqadah, Dzul hijjah, Rajab dan Muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Syaban.
Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab. Ada juga sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW juga bersabda,:”Barang siapa puasa tanggla 27 Rajab maka Allah mencatat sebgaimana orang puasa 60 (enam puluh) bulan.
Di samping itu, ada beberapa amalan diakhir bulan Rajab yang sering dilupakan mayoritas umat Islam. Salah satunya amalan di akhir Jumat akhir Rajab ketika khatib berada di atas mimbar, yakni mengucapakan untaian doa berbunyi: Ahmadu Rasuulullaah Muhammadun Rasuulullaah sebanyak 35 kali.
Amalan ini disebutkan dalam karya Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds, berbunyi: …di antara fawaa`id Syeikh Ali Al-Ajhurirahimahullaahu taala–sebagaimana didalam terjemah (biografi) beliau dalam kitab Khulaashatil Atsar sesungguhnya barang siapa pada akhir Jumat bulan Rajab, saat khatib berada di atas mimbar membaca: ahmadu rasuulullaah muhammadun rasuulullaah 35 kali, maka tidak terputus dirham dari tangannya dalam setahun itu. (Kitab Kanzunnajaah Wassurruur Fil Adiyah Allatii Tasyrahush Shuduur, hal 43)
Di samping itu, Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds juga menyarankan apa yang disebutkan dalam kitab Kanzunnajaah Wassurruur tersebut untuk diamalkan karena apa yang ada dalam kitab ini banyak faedahnya. Perkataan senada juga disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam karyanya untuk membacakan doa “Ahmad Rasulullah Muhammad Rasulullah, sebanyak 35 kali, dibacakan di antara dua khutbah hari Jumat akhir bulan Rajab, maka dimudahkan rezekinya dan dicukupi segala kebutuhanya (Qaul Ulama). (Kitab Mukaasyafah Al-Quluub,SyekhAbi Hamid bin Muhammad Al-Ghazali)
Salat Israk Mikraj
Sebagian umat Islam dalam memuliakan malam Israk Mikraj melakukan berbagai macam ibadah. Di antaranya, salat sunat pada malam 27 Rajab (Malam Isra' Mikraj). Salat tersebut dilakukan pada malam hari dengan jumlah rakaat 12 rakaat, setelah al-fatihah di bacakan surat al-falaq dan An-nas sebanyak tujuh kali dan surat Al-Ikhlas sebanyak empat kali. Dikala sesudah salam masih dalam posisi duduk dianjurkan untuk membaca: “Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar Wal Hamdu Lillaah Wa Subhaanallaah, Wa Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illa Billaah“, kemudian berdoa apa yang dihajatkan.
Amaliah ini disebutkan oleh Syaikh Muhammad Bin Hasan at-Thuusy : ” …menjalankan salat di malam 27 Rajab dan yang lebih baik pada sepertiga malam, terakhir sebanyak 12 rakaat, setiap rakaatnya membaca al-Hamdu dan surat al-Falaq, an-Naas sebanyak 7 kali, al-Ikhlas 4 kali. Kemudian setelah selesai salam dalam posisi duduk membaca: Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar Wal Hamdu Lillaah Wa Subhaanallaah, Wa Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illa Billaah, kemudian berdoalah sesuai keinginan kamu.(Kitab al-Mishbah al-Mutahaajjad, hal : 813-814).
Doa Malam Israk Mikraj
Ketika Rasulullah SAW berisrak mikraj, pada malam tersebut tiba-tiba jin ifrid menghadang beliau untuk membakar Rasulullah atas perintah Iblis, maka membaca sebuah doa berbunyi: “Auu zu bi waj hilla hil karim, wabikalimatillahit taammatil lati la yujawizuhunna barru wa la fajir, wa mim syarri ma yan zilu minas sama, wa syarri ma yaruju fiha, wa syarri ma zaraa fil ardhi, wa syarri ma takh ruju minha, wa min fitanil laili wan nahari, wa min tawariqil laili wan nahari, illa tariqan yatruqu bi khairin ya rahman” (Aku berlindung dengan wajah Allah yang Maha Mulia dan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak ada melampaui-Nya segala kebaikan maupun keburukan dari kejahatan apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan dari kejahatan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan dari kejahatan fitnah di malam dan siang hari dan dari kejahatan jalan-jalan dimalam dan siang hari, kecuali suatu jalan yang dilalui dengan kebaikan, wahai yang Maha Penyayang).
Doa perlindungan diatas yang disebutkan dalam hadist riwayat Imam Bukhari yang diajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW pada saat malam Isra dan Mikraj. Ketika itu Nabi SAW dihadang oleh jin ifrit yang diutus oleh iblis yang membawa obor untuk membakar Nabi Muhammad SAW. Lalu Rasulullah membaca doa perlindungan itu sehingga sang Ifrit tersebut kalah menyingkir . Doa itupun boleh digunakan untuk pertahanan diri dari segala musuh dan lebih bagus lagi dikombinasi dengan selawat.
Malam Israk Mikraj oleh orang saleh dan mereka yang dekat dengan Allah. Bahkan telah mendapatkantitel Al-Arif Billah tidak mengalpakan dan terus memohon kepada Allah SWT pada malam tersebut dengan bermacam doa. Salah satunya sebagaimana telah dipraktekkan oleh al-Allamah Arifbilah Sayyidi Imam Muhammad Bin Abdul Wahid an-Nazhifiy (1270 H-1366 H), yang menjadi salah seorang khalifah besar dalam Thariqah al-Muktabarah, yakni tareqat Tijani yang mendapat gelar al-Allamatul Auhad (orang yang memilki banyak ilmu yang jarang sekali tandingannya).
Beliau menyebutkan bahwa orang yang membaca doa di bawah ini pada malam 27 Rajab, maka Allah SWT akan mengabulkan segala doanya, diangkat kedudukannya dan dihidupkan hatinya dengan berbagai kebaikan. Doa tersebut berbunyi: Allahuma inni as-aluka bi musyahadati israari al-muhibbin, wabilhalawatillati khash-shashasta biha sayyidil mursalin, hina asrarta bihi lailata as-sabI wal isyriina,anirham qalbiia al-haziin,tujibta dawati,yaa-akramil akramiin (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia para ahlul mahabbah dengan kemuliaan khalwat (pertemuan tersembunyi) yang hanya Engkau berikan kepada Nabi Muhammad pemimpin para Rasul ketika Engkau berikan kesempatan kepada beliau pada malam 27 (dua puluh tujuh) Rajab, berikanlah hatiku yang sedang galau akan kasih sayang-Mu serta kabulkan doa-doaku, Wahai yang Maha memiliki kedermawanan).
Masih banyak doa dan wirid serta amalan lain yang tidak penulis sebutkan, namun harapan penulis di penghujung akhir bulan Rajab ini, kita dapat menyisihkan sedikit waktu untuk ber-taqarrub (mendekat diri) kepada Allah SWT, baik dalam manifestasi ibadah vertikal maupun horizontal menuju mardhatillah. Allahumma bariklana fihaza syahri hatta Syaban wa Ramadhan. Aamiin.[]
*Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Sekretaris LP3M IAI Al-Aziziyah Samalanga dan staf pengajar di Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga, Bireuen.
Email: lamkawe82@gmail.com