Rasulullah saw., kemudian melanjutkan perjalanannya di langit pertama. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada kelompok manusia yang dihidangkan daging panggang lezat di hadapannya, tapi mereka lebih memilih untuk menyantap bangkai di sekitarnya. Ternyata mereka adalah manusia yang suka berzina, meninggalkan yang halal untuk mereka dan mendatangi yang haram.
Rasulullah lantas berjalan sejenak, dan tampak di hadapan beliau suatu kaum dengan perut membesar seperti rumah yang penuh dengan ular-ular. Isi perut mereka dapat dilihat dari luar. Mereka sendiri tidak mampu membawa perutnya yang besar itu. Mereka adalah manusia yang suka memakan riba.
Di sana beliau juga menemui suatu kaum. Daging mereka dipotong-potong, lalu dipaksa agar memakannya, dan dikatakan kepada mereka: Makanlah daging ini sebagaimana kamu memakan daging saudaramu di dunia, yakni menggunjing atau berghibah.
Rasulullah kemudian beliau naik ke langit kedua. Malaikat penjaga bertanya seperti pertanyaan di langit pertama. Akhirnya disambut kedatangan beliau dan Jibril AS seperti sambutan sebelumnya. Di langit ini beliau berjumpa Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariya, keduanya hampir serupa baju dan gaya rambutnya. Masing-masing duduk bersama umatnya.
Rasulullah saw., menyifati Nabi Isa bahwa dia berpostur sedang, putih kemerah-merahan warna kulitnya, rambutnya lepas terurai seakan-akan baru keluar dari hammam, karena kebersihan tubuhnya. Rasulullah menyerupakannya dengan sahabat beliau Urwah bin Masud ats Tsaqafi.
Rasulullah bersalam kepada keduanya, dan dijawab salam beliau disertai sambutan: Selamat datang wahai saudaraku yang shaleh dan nabi yang shaleh.
Kemudian tiba saatnya beliau melanjutkan ke langit ketiga. Setelah disambut dengan baik oleh para malaikat, beliau berjumpa dengan Nabi Yusuf bin Yakub. Beliau bersalam kepadanya dan dibalas dengan salam yang sama seperti salamnya Nabi Isa.
Rasulullah berkomentar: Sungguh dia telah diberikan separuh ketampanan. Dalam riwayat lain, beliau bersabda: Dialah paling indahnya manusia yang diciptakan Allah, dia telah mengungguli ketampanan manusia lain ibarat cahaya bulan purnama mengalahkan cahaya seluruh bintang.
Ketika tiba di langit keempat, beliau berjumpa Nabi Idris. Kembali beliau mendapat jawaban salam dan doa yang sama seperti nabi-nabi sebelumnya.
Di langit kelima, beliau berjumpa Nabi Harun bin Imran, separuh janggutnya hitam dan seperuhnya lagi putih (karena uban), lebat dan panjang. Di sekitar Nabi Harun tampak umatnya sedang khusyu mendengarkan petuahnya.
Setelah sampai di langit keenam, beliau berjumpa beberapa nabi dengan umat mereka masing-masing. Ada seorang nabi dengan umat tidak lebih dari 10 orang. Ada juga dengan umat di atas itu, bahkan ada seorang nabi yang tidak ada pengikutnya.
Kemudian beliau melewati sekelompok umat yang sangat banyak menutupi ufuk. Ternyata mereka adalah Nabi Musa dan kaumnya. Beliau tertegun dan kagum karena pandangannya tertuju pada sekelompok umat yang sangat banyak, menutupi seluruh ufuk dari segala sisi, lalu ada suara: Itulah umatmu, dan selain mereka terdapat 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab.
Pada langit keenam inilah beliau berjumpa dengan Nabi Musa as., seorang nabi dengan postur tubuh tinggi, putih kemerah-merahan kulit beliau. Rasulullah saw., bersalam kepadanya dan dijawab disertai dengan doa. Setelah itu Nabi Musa berkata: Manusia mengaku bahwa aku adalah paling mulianya manusia di sisi Allah, padahal dia (Rasulullah saw.) lebih mulya di sisi Allah daripada aku.
Setelah Rasulullah melewati Nabi Musa, beliau menangis. Kemudian ditanya akan hal tersebut. Beliau menjawab: Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus jauh setelah aku, tapi umatnya lebih banyak masuk surga daripada umatku.
Kemudian Rasulullah saw., memasuki langit ketujuh. Di sana beliau berjumpa Nabi Ibrahim as., sedang duduk di atas kursi dari emas di sisi pintu surga sambil menyandarkan punggungnya pada Baitul Makmur, di sekitarnya berkumpul umatnya.
Setelah Rasulullah bersalam dan dijawab dengan salam dan doa serta sambutan yang baik. Nabi Ibrahim berpesan: Perintahkanlah umatmu untuk banyak menanam tanaman surga, sungguh tanah surga sangat baik dan sangat luas. Rasulullah bertanya: Apakah tanaman surga itu?
Nabi Ibrahim menjawab: (Dzikir) Laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil adziim.
Dalam riwayat lain beliau berkata: Sampaikan salamku kepada umatmu, beritakanlah kepada mereka bahwa surga sungguh sangat indah tanahnya, tawar airnya dan tanaman surgawi adalah Subhanallah wal hamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.
Kemudian Rasulullah diangkat sampai ke Sidratul Muntaha, sebuah pohon amat besar sehingga seorang penunggang kuda yang cepat tidak akan mampu untuk mengelilingi bayangan di bawahnya sekalipun memakan waktu 70 tahun. Dari bawahnya memancar sungai air yang tidak berubah bau, rasa dan warnanya, sungai susu yang putih bersih serta sungai madu yang jernih. Penuh dengan hiasan permata zamrud dan sebagainya sehingga tidak seorang pun mampu melukiskan keindahannya.