BANDA ACEH – Ketua Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Aceh Tengah, Yusuf Sabri Rahman, mengungkap kekecewaannya karena tidak dilibatkan dalam gerakan bersama melahirkan Provinsi Aceh Leuseur Antara (ALA). Dia menganggap kekecewaannya tersebut tidak berlebihan karena sebagai instrumen dari perjuangan ALA dan merupakan perwakilan mahasiswa Banda Aceh yang berasal dari Aceh Tengah.
“Harusnya gerakan perjuangan melahirkan provinsi ALA dijadikan gerakan bersama dengan melibatkan seluruh elemen pergerakan, tentunya elemen mahasiswa menjadi daya dorong dan nilai tawar dalam setiap pergerakan ALA,” ujar Yusuf Sabri Rahman dalam siaran persnya kepada portalsatu.com di Banda Aceh, Sabtu, 10 Oktober 2015.
Dia mengatakan mahasiswa Aceh Tengah yang ada di Banda Aceh sudah membuktikan diri tanpa komando dan tanpa arahan dari tokoh-tokoh ALA. Menurutnya mahasiswa Gayo sudah sangat tergerak dalam meneriakkan ALA di Banda Aceh.
“Setidaknya kami sudah merasakan penderitaan batin yang selama ini kita derita bersama. Harusnya benih-benih perjuangan semacam ini terus dijaga semangat dan pergerakannya, jangan diabaikan,” ujarnya lagi.
Dia mengatakan banyak yang heran dengan gerakan pembentukan ALA. Apalagi para tokoh terkesan meninggalkan mahasiswa yang kemudian terlihat adanya sikap eklusif dalam perjuangan ALA.
“Jika sudah milik bersama, maka pertemuan penting ALA juga harusnya dilakukan di Banda Aceh. Agar terkesan para pejuang ALA itu tidak pernah takut terhadap pemerintahan Aceh dan sekutunya,” katanya.
Yusuf mengatakan dengan dilaksanakannya pertemua ALA di Banda Aceh akan membuat gerakan ini lebih berwarna. Selain itu, jika pertemuan tingkat tinggi ALA juga digelar di ibukota provinsi maka akan menunjukkan nilai tawar lebih. “Tidak harus selalu di Medan,” katanya.