Dewasa ini banyak orang tua lebih memilih berinteraksi dengan anaknya hanya menggunakan bahasa Indonesia. Mereka abaikan bahasa daerah yang sebenarnya adalah bahasa pertama para orang tua. Alasannya, tentu saja agar anak lebih mudah belajar ketika sekolah kelak sebab di sana materi diajarkan menggunakan bahasa Indonesia. Efek dari sikap para orang tua ini adalah menyebabkan si anak hanya menguasai satu bahasa.
Fakta di atas juga indikasi kekhawatiran para orang tua terhadap prestasi anak ketika sekolah. Padahal kekhawatiran seperti ini tidak seharusnya bersemayam di dalam benak mereka jika para orang tua mengetahui bahwa banyak keuntungan yang dimiliki oleh anak yang menguasai lebih dari satu bahasa.
Para ilmuwan menemukan bahwa menguasai dua bahasa akan meningkatkan ukuran bagian otak yang bertanggung jawab untuk proses daya ingat jangka pendek dan rentang perhatian.
Dulu para ahli menduga bahwa anak-anak yang berbicara dua bahasa bisa mengalami kerugian karena mengingat dua bahasa bisa memperlambat perkembangan bahasa mereka. Tapi kini para ahli menemukan bahwa anak-anak tersebut justru memiliki kemampuan lebih dalam tugas yang membutuhkan perhatian, penundaan dan memori jangka pendek, dibandingkan dengan anak yang hanya bisa satu bahasa.
Walau begitu kontroversi tetap ada mengenai keuntungan dari kemampuan bilingual. Dalam penelitian yang dilakukan tim dari Georgetown University Medical Centre ditemukan, orang dewasa yang menguasai beberapa bahasa (poliglot) memiliki area otak abu-abu (grey matter) yang lebih banyak.