Segala sesuatu pasti mempunyai sejarah dan sepak terjang serta riwayat tersendiri, termasuk juga 'istigfar Rajab'. Disebutkan dalam literatur sejarah, pernah di zaman Rasulullah SAW, hidup seseorang yang fasik -yaitu orang yang mengaku beriman tetapi senang melakukan dosa- bernama Abdullah bin Shultan. Saat ia meninggal tidak seorang pun mau memandikannya, menyalatkan apalagi menguburkannya.
Saat itu turun malaikat Jibril menyampaikan kabar agar mendatangi rumah Abdullah dan memberikan kewajiban orang hidup terhadap orang yang sudah mati, lalu Nabi seperti biasa mengajak sahabat untuk memandikan, mengkafani, menyalatkan dan menguburkan jenazahnya.
Sepulang dari pemakaman ada keheranan dalam diri Nabi, sahabat berkata:
Wahai baginda Rasul boleh kami bertanya? Rasul menjawab “boleh”, sahabat :” Ada hal yang ingin kami utarakan ketika baginda sedang mengantar jenazah yang tadi, terlihat kaki anda diungkit mengangkat keatas, “jinjet”,- (mirip orang yang main balet, kalo berjalan kaki di angkat ke atas) dan juga ketika selesai menguburkan, anda tersenyum keatas, ada apa?”
Mendengar pertanyaan tersebut rasul tersenyum, “Wahai sahabatku alasan kaki diangkat, karena kami melihat ribuan malaikat berlari-lari mengerebuti mayit tersebut sambil meminta ampun untuk mayit tersebut, kami takut menginjak mereka (para malaikat). Terus alasan kenapa kami tersenyum keatas karena kami melihat para bidadari berlomba-lomba memberikan minuman untuk roh mayit tersebut. Para sahabat pun heran, dengan bijak nabi mengajak para sabahat untuk mendatangi rumah mayit tersebut karena ingin tahu amalan apa yang diperbuat oleh mayit tersebut hingga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.