ACEH memiliki banyak sekali potensi daerah. Salah satunya di bidang kepariwisataan dengan beragam destinasi menarik untuk dikunjungi, seperti lautnya yang indah. Pemandangan dari atas pegunungannya pun mampu menyihir mata memandang.
Potensi wisata ini akan sangat bermanfaat bila dimanfaatkan secara baik oleh setiap daerah. Banyaknya wisatawan yang mengunjungi suatu daerah akan sangat berguna bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Dari sini maka akan lahir berbagai ekonomi kreatif. Perajin kesenian bisa mencoba membuat makanan khas atau souvenir khas daerah tersebut. Selama ini yang sering dijadikan kenang-kenangan wisata berbentuk baju, gantungan kunci, tas motif Aceh, dan sebagainya.
Lokasi wisata ini tidak akan banyak berkontribusi bagi ekonomi kerakyatan bila tidak dipromosikan. Tanpa promosi, sedikit sekali orang yang mengetahui lokasi wisata tertentu. Dengan kecanggihan teknologi dan tingginya pecandu medsos, dapat dimanfaatkan secara maksimal. Tidak butuh tenaga maupun dana yang banyak. Promotor hanya perlu mendesain ataupun melampirkan foto atau video lokasi wisata yang menarik. Meskipun terkadang lokasi wisata di dunia nyata tidak semenarik yang ada di dalam gambar.
Andil pemerintah cukup tinggi untuk peningkatan atau penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah. Kalau tinggi, maka pemerintah layak mendapatkan apresiasi. Sedangkan bila menurun, sudah seyogyanya dilakukan evaluasi. Bila sangat menurun, berarti kinerja pemerintah tidak maksimal.
Pemilihan para duta wisata ini diharapkan mampu mempromosikan wisata Aceh. Peserta yang mendaftar pada ajang ini harus berpengetahuan luas serta memiliki komunikasi yang baik. Menguasai kemampuan berbahasa Inggris menjadi nilai tambah. Karena nantinya mereka juga diharapkan mampu bergaul dengan wisatawan mancanegera (wisman). Pastinya, sangat jarang di antara wisman bisa berbahasa Indonesia. Kecuali untuk wisman asal Malaysia, bahasa negeri jiran dengan mudah bisa dipahami walaupun ada perbedaan yang tidak berarti dengan Bahasa Indonesia.
Wisata Tanpa Duta
Calon duta wisata ini melalui berbagai tahapan seleksi. Mulai dari seleksi administrasi, tes kemampuan lisan dan tulisan. Peserta ajang ini merupakan kalangan pemuda-pemudi. Dari sekian banyak peserta umumnya berasal dari kalangan kampus. Mereka dites, kemudian terpilih beberapa pasangan yang akan mengikuti karantina di sebuah hotel selama beberapa hari. Di media sosial, biasanya instagram, mereka diuji mempromosikan wisata. Di sini, mereka sebenarnya juga sedang memperkenalkan diri mereka sekaligus mencari dukungan. Ajang ini dinamakan medsos challenge. Siapa yang paling banyak mendapatkan tanda suka mereka akan dianggap sebagai pemenang untuk kategori ini.
Ajang duta wisata tidak hanya dilaksanakan di Banda Aceh. Tidak sedikit daerah-daerah lain yang juga ambil bagian dalam kegiatan ini. Namun, apakah pemilihan duta wisata ini efektif untuk meningkatkan promosi Aceh? Ataukah cuma menjadi ajang mencari popularitas bagi pesertanya? Seolah jika berhasil menjadi pemenang, maka akan lebih dipandang hormat atau disegani. Atau sebatas seremonial untuk menunjukkan bahwa daerah tersebut juga memiliki duta wisata seperti daerah lain?
Di sisi lain, penulis juga tahu bahwa pemilihan duta wisata merupakan salah satu cara meningkatkan promosi wisata. Pemerintah juga sudah melakukan berbagai promosi wisata dengan cara lain untuk tingkat daerah, nasional, maupun internasional.