SUKA tantangan dan selalu ingin mencoba hal-hal baru, inilah yang mengantarkan si penyiar tampan Doni Ihsan Wijaya menjadi Duta Perdamaian Aceh yang pertama. Doni, bersama Isma Junida dinobatkan sebagai Duta Perdamaian Aceh pada 14 November 2015 lalu di puncak peringatan 10 tahun MoU Helsinki di Banda Aceh.
Bagi cowok kelahiran Padang, 8 Juli 1992 itu menjadi seorang Duta Perdamaian sangatlah spesial. Menjadi tantangan tersendiri baginya dalam menkampanyekan dan mensosialisasikan perdamaian pada masyarakat. Apalagi ini merupakan pemilihan Duta Damai Aceh yang pertama kalinya digelar.
Alhamdulillah, Doni diberi amanah menjadi duta bersama Isma Junida dari Aceh Barat Daya. Duta Perdamaian ini sangat spesial mengingat latar belakang Aceh sebagai daerah yang pernah dilanda konflik selama puluhan tahun kini telah menemukan perdamaian, ujar Doni kepada portalsatu.com.
Wakil I Agam Banda Aceh tahun 2014 ini mengatakan, awalnya tertarik untuk mengikuti kompetisi tersebut berawal dari informasi yang diterimanya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh. Bak gayung bersambut, Doni yang selama ini suka membaca hal-hal yang berhubungan dengan sejak Aceh, termasuk mengenai konflik Aceh seolah menemukan magnet yang membuatnya antusias mengikuti pemilihan itu.
Jadi semakin penasaran untuk mengetahui lebih banyak mengenai proses menuju perdamaian tersebut. Dan pastinya ingin mencoba hal baru dan juga mengharumkan nama Kota Banda Aceh, kata Ketua Ikatan Agam Inong Duta Wisata Banda Aceh untuk masa jabatan 2014-2016 ini.
Baginya pertarungan tak hanya selesai setelah predikat Duta Damai Aceh disematkan padanya. Justru ini menjadi babak baru baginya untuk menggali lebih banyak informasi tentang perdamaian, baik dari Aceh maupun daerah lain. Ia juga ingin terus mensosialisasikan proses perdamaian Aceh dan hasil yang telah dicapai pada masyarakat, khususnya kalangan anak muda Aceh.
Karena sebagian besar generasi muda kurang mengikuti proses perdamaian Aceh itu sendiri, dimulai dari sejarahnya hingga hasil dan produk perdamaian itu sendiri seperti contohnya UU No. 11 tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh atau UUPA, kata sarjana lulusan Marketing Bisnis Victoria University Sunway Campus, Malaysia ini lagi.
Untuk mewujudkan itu kata Doni tak harus dengan cara yang ribet, tapi bisa diterapkan dengan membuat penyuluhan, diskusi atau dialog di sekolah-sekolah. Selain itu, dengan menjadi penyiar di Oz Radio Banda Aceh membuat Doni punya kesempatan untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian pada generasi muda Aceh.
Latar belakang pendidikannya juga berkontribusi banyak dalam menunjang aktivitasnya. Marketing is satisfiying needs and wants, begitu alumni SMA Labschool Unsyiah ini berpendapat.[]