Ketika kecil dulu, saya seringkali mendengar para orang tua di kampung menyebut kata praja. Meunyoe keumeung meukawen, payah peucocok praja ilèe. Meunyoe sama praja, meukawén laju, meunyoe hana, yu meukawén ngon ureung laén manteng. Namun, waktu itu pengetahuan saya tentang praja masih awam. Di samping itu, saya merasa untuk apa harus buang-buang energi mencari tahu. Lebih baik bermain dengan teman-teman.
Pada 2013, saat hendak menikah saya kembali sering mendengar nama ini. Orang tua di kampung ketika itu mencoba mencocokkan praja saya dengan sang calon istri. Kata orang tua yang menerawang praja saya ketika itu, praja saya cocok dengan sang calon.
Katanya, nama saya diakhiri oleh di, sedangkan calon istri saya berakhir dengan ti. Di berpraja kerbau, sedangkan ti berpraja burung. Maka, saya pun diklaim cocok dengan istri saya ibarat kerbau dan burung yang saling membantu. Kerbau di sawah, misalnya, sering dicarikan kutu oleh burung yang bertengger di punggungnya. Jadi, kalau menikah, rumah tangga kami akan bahagia dan tidak akan cekcok.
Dari penjelasan orang tua tersebut, saya jadi paham praja berarti prediksi orang tua zaman dulu terhadap calon suami istri tentang baik atau tidaknya mereka menikah, memiliki rezeki atau tidak jika mereka menikah, terjadi percekcokan atau tidak dalam rumah tangga ketika menikah nanti.
Praja banyak jenisnya, di antaranya praja krueng, praja sungai, praja guda praja kuda, praja cangguk praja kodok, praja cicém praja burung, praja kapai praja kapal, praja manok praja ayam, praja kamèng praja kambing, praja rimung praja harimau, dan praja uleu praja ular.
Penentuan jenis praja yang dimiliki oleh seseorang dilakukan dengan cara melihat suku kata terakhir nama laki-laki dan perempuan. Seseorang yang namanya diakhiri suku kata ri berarti ber-praja kamèng, diakhiri suku kata di berarti ber-praja keubeu, diakhiri suku kata wi berarti ber-praja krung, diakhiri suku kata ti berarti ber-praja cicém.