Menanti Museum Perdamaian Aceh
Oleh Muhajir, Sekjen Ormas Al Kahar
Aceh yang dulunya merupakan sebuah kerajaan yang disegani di kawasan Asia Tenggara, memang tak pernah lepas dari berbagai peristiwa. Baik semenjak diultimatum oleh Kerajaan Belanda pada 26 Maret 1873 untuk tunduk di bawah kedaulatan bendera merah-putih-biru, hingga kini di bawah kedaulatan bendera merah putih, di mana Aceh termasuk salah satu provinsi yang diberikan kewenangan lebih dibandingkan provinsi lain dalam kedaulatan Republik Indonesia.
Ketika nama Aceh disebutkan, seakan menjadi lumrah kata perang pun ikut menyertainya. Hal ini pastinya akan berdampak negatif terhadap Aceh. Seakan-akan tiada peristiwa lain yang terjadi di Aceh selain perang. Karena hal itu, kita pun dianggap manusia yang berwatak keras oleh orang di luar Aceh.
Padahal, ada peristiwa lain selain perang yang menonjol dan harus selalu kita kedepankan. Perdamaian, hal lain yang mesti kita populerkan. Terwujudnya perdamaian antara pejuang kemerdekaan Aceh (GAM Gerakan Aceh Merdeka) dengan Pemerintah Indonesia di Helnsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005 adalah peristiwa besar yang akan selalu tercatat dalam sejarah, baik itu sejarah Aceh, Nusantara maupun sejarah dunia.
Karena perdamaian yang terjadi, hal yang tidak pernah terbayang dalam pikiran kita. Betapa tidak, Aceh yang sudah terlanjur dianggap masyarakat berwatak keras dan suka berperang, seakan tiada hentinya berperang. Mulai dari perang mempertahankan kedaulatan kerajaan dari invasi Belanda tahun 1873, perang pendudukan Jepang, perang DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) hingga berperang untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan perdamaian pun akhirnya tercapai setelah tragedi besar, gempa dan smong (tsunami) meluluhlantakkan sebagian besar Aceh pada 26 Desember 2004.
Mengenang perdamaian adalah hal yang mesti kita lakukan, walau masih ada beberapa masalah yang belum terselesaikan. Mengadakan perayaan seremonial dan membangun monumen kenangan adalah sekian dari banyak hal yang bisa dilakukan. Namun merawat dan mengisi perdamaian dengan semangat kerja untuk kemajuan Aceh, inti dari kenangan dan nilai dari perdamaian itu sendiri.