MEREKA yang menyebarkan seruan agar umat Islam tidak mempelajari Islam ke dunia Barat nampaknya harus menarik ucapannya. Kini terbukti bahwa justru di negara-negara Barat, temuan-temuan ilmiah tentang Islam tumbuh subur. Kabar terbaru adalah ditemukannya penggalan manuskrip Al-Quran tertua, berusia sekitar 1370 tahun, di Universitas Birmingham, Inggris. Ini memiliki makna sangat penting bagi dunia Islam, meskipun tak berarti tanpa kontroversi.
Universitas Birmingham selama ini dikenal sebagai salah satu universitas yang giat mengumpulkan manuskrip kuno dunia Islam. Manuskrip Al-Quran tertua itu sebenarnya sudah bertahun-tahun berada dalam koleksi dokumen yang berasal dari Timur Tengah yang jumlahnya mencapai 3000 buah. Sebagian besar dokumen terutama didapat Alphonse Mingana, Pendeta Kasdim yang lahir dekat kota Mosul di Irak, pada 1920.
Petugas perpustakaan Universitas Birmingham selama ini tidak menyadari di antara dokumen-dokumen itu ada harta karun yang tidak ternilai harganya. Namun ketika ada ilmuwan yang melakukan uji penanggalan radiocarbon terhadap dua lembar perkamen yang berisikan surah ke-18 sampai 20 Al-Quran (Al-Kahfi, Maryam, Thaha) dengan terkejut mereka menyadari bahwa dokumen yang mereka pelajari mungkin sekali berasal dari era Nabi Muhammad masih hidup.
Uji radiocarbon yang dilaksanakan di Universitas Oxford ini diperkirakan memiliki tingkat akurasi mencapai 95 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggalan manuskrip yang ditulis di atas kulit kambing itu dipastikan berasal dari tahun 568 sampai 645 Masehi, menjadikannya naskah penggalan Al-Quran tertua yang pernah ditemukan. Manuskrip itu mengantar kita kembali ke pada masa beberapa tahun sejarah berdirinya Islam, kata David Thomas, Profesor Studi Kristen dan Islam Universitas Birmingham.
Ini merupakan temuan yang penting karena sejumlah hal. Selama ini mayoritas umat Islam percaya bahwa isi Al-Quran selalu terjaga sepanjang zaman. Dengan kata lain, ayat Al-Quran di abad 21 Masehi ini berbunyi sama dengan ayat Al-Quran ketika diturunkan kepada Nabi Muhammad di abad ke-7 Masehi. Tidak ada perubahan penting, kecuali aspek teknis minimal. Umat Islam percaya itu berdasarkan, terutama keyakinan, karena Allah menjamin kebenarannya.
Temuan di Birmingham ini bisa dijadikan bukti empirik mengenai keyakinan itu. Sebagaimana dikatakan Thomas, ternyata memang isi penggalan Al-Quran tertua ini hampir sama sepenuhnya dengan isi Al-Quran standar saat ini. Bagian-bagian Al-Quran yang terkandung dalam manuskrip tersebut sangat mirip dengan Al-Quran yang kita miliki saat ini, kata Thomas. Jadi penemuan ini mendukung pandangan bahwa teks Al-Quran yang ada sekarang kurang lebih memang sangat dekat serupa dengan Al-Quran yang dibukukan pada tahun-tahun awal Islam.
Di sisi lain, temuan ini juga mengandung kontroversi lain. Hasil uji radiocarbon menunjukkan penggalan Al-Quran tersebut dipastikan berasal dari tahun 568 sampai 645 Masehi. Adapun Nabi Muhammad diyakini hidup antara tahun 570 sampai 632 Masehi. Nabi Muhammad baru menjadi Nabi pada usia 40 tahun, yakni sekitar tahun 610 Masehi. Dengan kata lain, bila tahun lahir manuskrip tersebut adalah sebelum 610 Masehi, itu berarti sebelum Nabi Muhammad resmi menjadi Nabi, sudah ada ayat-ayat yang sekarang dipercaya sebagai bagian Al-Quran. Ini bisa menjadi bahan penelitian baru.
Bukan Ditulis Sahabat
Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri Jakarta, Oman Fathurahman, menyatakan berbagai pusat keilmuan di negara-negara Barat memang kaya dengan manuskrip-manuskrip yang dipercaya berasal dari periode awal Islam.
Selain yang terdapat di Universitas Birmingham, di beberapa perpustakaan dan museum di Eropa ada puluhan manuskrip Al-Quran kuno, misalnya di Jerman, Inggris, Perancis, dan pusat-pusat studi Islam dan dunia Timur lain di Eropa, papar Oman kepada Redaksi Madina Online via telepon pada Selasa (28/7).
Menurut Oman, yang membuat penggalan manuskrip Al-Quran yang ditemukan di Universitas Birmingham itu menjadi istimewa adalah manuskrip itu telah melewati tahap uji penanggalan radiocarbon. Uji radiocarbon adalah pengujian yang dilakukan secara saintifik dan dipercaya akurat. Dari uji radiocarbon, sebuah manuskrip bisa ditelusuri kapan ia berasal, meskipun ia, misalnya, berasal dari 60.000 tahun yang lalu.
Yang diuji dalam uji radiocarbon adalah sampel kimiawi dari elemen material yang menjadi medium penggalan ayat Al-Quran itu ditulis. Dalam konteks penggalan manuskrip itu adalah perkamennya, kata Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara itu.
Adapun manuskrip-manuskrip Al-Quran yang disimpan di tempat lain sepengetahuan Oman belum diuji radiocarbon. Manuskrip-manuskrip itu baru diperkirakan saja berasal dari awal abad pertama Hijriah. Artinya, kemungkinan manuskrip-manuskrip itu berasal dari awal abad pertama Hijriah belum bisa dikonfirmasi secara ilmiah.
Oman mengaku belum mendapat informasi seberapa mahal biaya untuk melakukan uji radiocarbon. Jika biayanya relatif tidak mahal, Oman akan mendorong agar manuskrip-manuskrip Al-Quran yang tersimpan di berbagai tempat itu juga diuji radiocarbon. Dengan begitu, manuskrip-manuskrip Al-Quran itu bisa diketahui pada era kapan ia berasal.
Namun Oman juga mengingatkan bahwa uji radiocarbon itu punya keterbatasan. Uji radiocarbon itu hanya mengungkap aspek kodikologis atau medium yang digunakan untuk menulis manuskrip itu.
Menurut Oman, dalam disiplin ilmu tentang naskah kuno (filologi), ada tiga ranah penelitian yang ditempuh ketika ingin meneliti sebuah manuskrip kuno. Pertama, penelitian tekstologis. Pada tahap ini, yang diteliti adalah apakah, misalnya, manuskrip berupa kitab-kitab yang ditulis ulama Nusantara seperti Abdurrauf Singkel (w.1693) itu memang tulisan tangan langsung oleh Singkel atau itu adalah salinan dari tulisan tangannya.
Kedua, penelitian kodikologis. Yang diteliti pada tahap ini adalah medium apa yang digunakan sebagai alas manuskrip itu. Pada tahap ini uji radiocarbon berperan penting. Dari sini peneliti bisa mendapat informasi apakah kitab yang ditulis Singkel atau salinannya yang ditemukan pada abad ke-19, misalnya, itu ditulis di atas kertas yang dibuat dari pabrik kertas yang berasal dari Inggris atau Belanda. Mengingat Inggris dan Belanda pada abad itu diketahui telah memproduksi kertas.
Apakah yang tertulis dalam manuskrip itu berbicara tentang fikih, tasawuf, atau teologi, itu tidak menjadi perhatian penelitian kodikologis. Bahkan bila manuskrip itu tidak ada tulisannya sama sekali, peneliti kodikologis tetap akan mengujinya, terang peneliti di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta itu.
Terakhir, penelitian paleografis. Penelitian ini mempelajari tentang asal-usul dan karakter tulisan kuno. Dalam kasus penggalan manuskrip Al-Quran yang terdapat di Universitas Birmingham, Oman belum mendapat informasi bahwa penelitian paleografis ini sudah dilakukan.
Namun dari pengamatan foto penggalan manuskrip yang terekspos di beragam media, Oman mempertanyakan kesimpulan bahwa penggalan manuskrip itu ditulis pada masa awal Islam dan ditulis oleh seorang sahabat, sebagaimana yang diklaim pihak Universitas Birmingham.