REDELONG – “I always loving you and I try to make you proud be my mother hereafter.” Kalimat ini keluar dari mulut Rina Bintar Handayani menyikapi Hari Ibu, Selasa, 22 Desember 2015.

Kalimat tersebut lebih kurang dapat diartikan, Rina sangat mencintai ibunya dan selalu mencoba untuk membuatnya bangga. Perempuan kelahiran Kudus, Jawa Tengah, pada 23 April 1992 ini merupakan Kepala Satuan Lalulintas di Polres Bener Meriah. 

Rina merupakan putri tunggal dari pasangan Ammirin-Munawaroh. Dia menyelesaikan studi di Akademi Kepolisian (Akpol) pada 2013 lalu dan kini berpangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda).

Rina baru saja ditugaskan ke Aceh sejak 2014 lalu. Karirnya di Aceh dimulai dari Kasubbag Humas, Kasubnit Dikyasa, dan Kanit Dikyasa Polresta Banda Aceh.

Bagi Ipda Rina, tanggal 22 Desember merupakan hari dan momen spesial. Pasalnya dengan penempatan tugas yang jauh dari ibunda, membuatnya sadar arti penting peran ibu dalam menjalani kehidupan dan capaian kesuksesan seperti yang dirasakan saat ini.

Baginya, ibu adalah sosok yang memiliki kekuatan dalam menyuntik energi positif untuk mencapai suatu kesuksesan. Hingga kini pesan sederhana ibunda terus dingatnya.

“Mama cuma pesan selalu bersyukur, jaga kesehatan dan harus menjadi wanita yang berani dan mandiri,” kata Ipda Rina.

Awalnya, Rina mengaku jengkel dengan sikap sang ibunda yang terkesan cerewet, suka ngatur, harus disiplin dan hidup sehat. Namun karakter tersebut merupakan ciri khas yang melekat dari ibundanya. 

Menurutnya sikap tersebut diperlihatkan ibunya untuk memastikan agar sang buah hati semata wayang mendapat yang terbaik dari segala hal.

“Ternyata itu semua dilakuin mama untuk kebaikan saya. Apalagi udah jauh gini, kangen banget sama mama,” ujarnya.

Ipda Rina mengatakan kesuksesannya mengenakan seragam kepolisian juga tidak terlepas dari peran sang ibu. Pasalnya sebelum memutuskan untuk memilih jalur sekolah di Akpol, Ipda Rina sangat menginginkan menjadi dokter.

Apalagi sebelum menjadi polisi, Rina telah diterima di salah satu Fakultas Kedokteran di universitas ternama di Indonesia. Namun apalacur, faktor ekonomi membuat langkah Ipda Rina harus mengubur mimpinya menjadi dokter.

“Karena keterbatasan uang makanya gak bisa lanjut, akhirnya mama mutusin untuk sekolah di Akpol. Ya sudah saya jalani aja dan mama selalu beri support dan dukungan, dan akhirnya saya pun sudah menggeluti dan suka sama tantangan di dunia kepolisian ini,” ujar Ipda Rina.[](bna)