PEMERINTAH Aceh kemarin menggelar peringatan 10 Tahun perdamaian Aceh yang dipusatkan di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu, 15 November 2015. Kegiatan ini dihadiri oleh orang-orang penting, seperti inisiator perdamaian sekaliber Jusuf Kalla, Juha Cristensen, Pieter Fieth, Hamid Awaluddin, dan tentunya Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar, Gubernur Zaini Abdullah, dan Ketua KPA Muzakir Manaf.

Namun kegiatan tersebut tidak bisa diakses oleh publik Aceh secara umum. Tentu saja orang-orang seperti petani, pedagang, tukang becak, dan bahkan pengemis dilarang mengakses ke lokasi ini. Menyikapi hal tersebut, portalsatu.com mencoba menjaring aspirasi kalangan akar rumput dari berbagai daerah mengenai makna damai yang kini dirasakan di Aceh. 

Berikut kata warga Aceh tentang makna damai bagi mereka:

Rawiah, 42 tahun, penjahit di Banda Aceh

“Damai diartikan tidak adanya lagi keributan. Tapi fakta yang terjadi di Aceh kita lihat, perbedaan pendapat saja menjadi ribut yang ujung-ujungnya saling menyalahkan dan menuding satu sama lain. Meskipun perdamaian sudah ada MoU-nya 10 tahun yang lalu, tetapi di masyarakat belum terasa apa makna damai itu.”

Kakek, tukang tambal ban di Lampineung, Banda Aceh yang berasal dari Bener Meriah

“Kalau sudah damai seperti ini, mau usaha dimanapun kita aman-aman saja. Tidak seperti dulu, pergi ke sawah aja, begitu jumpa tentara, tanyanya tentang GAM. Jumpa GAM tanyanya tentang tentara. Semoga saja terus damai seperti ini, jadi masyarakat mau kemana saja, aman. Saya asli Bener Meriah dan bisa usaha di Banda Aceh. Kalau dulu, takut, tidak bisa kemana-mana.”

Nurhayati alias Wa Ti, penjual pisang sale di Lhok Nibong, Aceh Timur

“Kedamaian secara fisik saat ini memang kita rasakan. Artinya tidak ada lagi letusan senjata, tidak ada lagi mayat yang tergeletak di pinggir jalan akibat tembakan. Ini sangat kita syukuri selama ini. Menyo damei nyoe kana bak geutanyoe, dum pue buet mangat ta langkah, aneuk sikula mangat bak ijak meurunoe, tanyoe ureung chik pih mangat ta mita raseuki. Menyo awai, teungoh ta kerija, teungoh ta cruep pesiblah dro bak aneuk bude.”

Saiful Bahri, 33 tahun, pedagang bumbu dapur di kompleks pasar ikan Lhoksukon, Aceh Utara. 

“Perdamaian yang telah berusia 10 tahun itu sangat baik. Dalam arti sudah tidak ada lagi perang atau konflik yang meresahkan masyarakat.Saat ini jika pun ada perampokan, penculikan atau penembakan, itu hanya bersifat pribadi atau kelompok dan itu di luar konteks perdamaian. Tidak lagi melibatkan masyarakat umum seperti saat konflik. Kini masyarakat bisa mencari nafkah dengan tenang, baik itu berdagang atau berkebun.”

Zulkifli, 25 tahun, penjaga warung kopi di Aceh Utara.

“Perdamaian sudah memasuki tahun ke 10 tapi tidak ada yang lebih. Memang tiap tahunnya pembangunan selalu ada, namun sasarannya sampai saat ini belum bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Aceh. Keadilan yang menyeluruh belum terasa, kebahagiaan hanya didapatkan oleh segelintir orang saja. Jika dia dekat dengan seseorang maka dia bahagia, sebaliknya jika masyarakat di pedalaman hanya melihat kebahagian orang-orang itu. Menyo lage nyo cara, singoh kon sidro yang berontak ngon pemerintah tapi ban sigom bangsa Aceh.”

Yuswardi, pedagang batu giok di Blang Kolak Satu, Aceh Tengah

“Damai itu bagaimana pemimpin Aceh masa kini dapat memberi kebebasan berpendapat bagi setiap masyarakat tanpa adanya intervensi dari pihak manapun. Hingga akhirnya dapat kebebasan berdemokrasi itu akan menjadi cerminan bagi pemerintah untuk mengevaluasi apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh rakyatnya.

Jadi, ini sangat penting. Dengan kebebasan berdemokrasi, tanpa adanya tekanan apalagi waktu pemilu, maka pemimpin yang terpilihpun akan berkualitas dan akhirnya dapat menjadi pemimpin yang mampu mensejahterakan masyarakat.

Pemerintah Aceh juga diminta agar mengedepankan peningkatan mutu pendidikan Aceh pasca 10 tahun damai Aceh. Ini juga poin penting. Dengan pendidikan, suatu bangsa akan maju. Sementara dari bidang ekonomi bagi saya itu posisi yang ketiga, yang penting kebebasan berpendapat dan tingkatkan mutu pendidikan lebih penting. Kalau dua poin itu sudah jalan, maka kesejahteraan masyarakat dan peningkatan ekonomi itu pasti bergerak maju.”

Lukman, pedagang baju keliling dari Langsa

Damai yang na di pikiran lon nyan keuh, hana rasa yo (takut) ho yang tajak dalam keadaan tenang, raseuki pih lancar resiko hana. Damai itu mudah bagi kita melakukan aktivitas tanpa ada hambatan ketakutan yang membahayakan keselamatan. Aman ho yang tajak mita raseuki mudah, karena resiko tanyo pedangang macam-macam apalagi tameukat u daerah laen. Nyo lage lon pindah-pindah awai di Banda Aceh kemudian Bireuen dan jino u Takengon. Dagangan keliling meukat baje, jadi resiko jih rayeuk.Damai yang kana harus ta pelihara, ta jaga sama-sama, pokok jih Aceh bek le lam haru hara lage awai masa konflik, kasep yang lage-lage nyan.

Fadli, pedagang ice bland (PKL) Sabang 

“Semakain damai Aceh, rakyat semakin makmur. Rakyat bisa cari nafkah dengan baik tanpa harus was-was di hati ketika pulang tengah malam karena gak konflik seperti dulu. Saya harap perdamaian ini bisa abadi lah, gak ada lagi kesalahpahaman. Kalau ada salah paham kan bisa cari solusi sama-sama. Ini (konflik) menjadi suatu pelajaran bagi kita, untuk jadi lebih dewasa.”[]