BANDA ACEH – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP Unsyiah, Sibghatullah Arrasyid, mengatakan sikap turun gunung yang dilakukan Nurdin bin Ismail alias Din Minimi memberikan dampak positif bagi keluarganya. Dengan begitu Din bisa lebih dekat dengan keluarga dan mendidik anak-anaknya. Ia juga berharap Aceh tidak lagi diributkan dengan isu-isu politik dan konflik.

“Karena (masyarakat) Aceh sudah lelah dengan konflik,” kata Sibghatullah kepada portalsatu.com kemarin, Rabu, 30 Desember 2015.

Namun, terkait permintaan amnesti oleh kelompok Din Minimi ia menilai agak sedikit rancu. Pasalnya selama ini Din Minimi menjadi buruan pihak kepolisian karena diduga terkait dengan aktivitas kriminal. Menurutnya ada 'dalang' di balik semua ini.

“Saya mersa Din Minimi itu hanya menjadi alat politik elit di Aceh, sedikit rancu dengan keadaan ini karena yang saya ketahui Din Minimi adalah buronan polisi, seperti halnya perbedaan persepsi antara Bapak Sutiyoso dengan Kapolri terhadap Din Minimi,” katanya.

Ia juga meyakini, turun gunungnya Din Minimi terkait dengan kondisi politik yang dimainkan elit politik di Aceh.

“Namun saya berharap hal ini merupakan tujuan untuk memajukan Aceh, terutama dalam bidang pendidikan. Aceh harus lebih jeli dalam menganalisis pendidikan, peristiwa yang ada di Aceh dan masyarakat Aceh harus mampu mencintai perdamaian,” katanya.

Sementara itu, Kabid Pemberdayaan Perempuan BEM FISIP Unsyiah, Khalida Zia, mengatakan langkah yang dilakukan Din Minimi dan kelompoknya merupakan upaya positif. Pemerintah diminta memberikan ruang bagi mereka untuk kembali ke masyarakat, sekaligus mencegah timbulnya kelompok serupa lainnya.

“Pemerintah harus ambil andil dan mengupayakan pendekatan yang maksimal terhadap masyarakat kecil, dan melakukan evaluasi dengan Din Minimi cs untuk mencegah timbulnya kelompok-kelompok serupa di kemudian hari,” katanya.[] (ihn)