AKTIVIS lintas generasi beberapa waktu lalu menyerukan semua pihak untuk bersatu. Baik itu untuk kaum pejuang GAM maupun pejuang demokrasi. Tanpa persatuan, Aceh akan sulit keluar dari kemelaratan. Aceh akan sulit survive menghadapi tantangan zaman. 

Tentu bukan hanya aktivis saja yang menyerukan persatuan. Hampir semua kalangan melakukannya. Namun melihat hari ini sepertinya masih jauh dari harapan. Bila sebelumnya mantan GAM lapangan berselisih, sekarang para level GAM pimpinan politik saling bermusuhan. 

Mungkin sikap mereka ini terjadi lantaran tidak ada musuh bersama yang harus dihadapi. Makanya sifat “kuat meupake” tetap terpelihara. Akibatnya dengan sesama pun “mita pasai.” 

Hal ini juga bisa dilihat di Rapat Koordinasi Partai Aceh kemarin. Para tetua mereka saling berkomentar miring. Masing-masing saling membuat pembenaran dengan alasan ketidakadilan. 

Tentu saja ini sangat tidak elok jika dilihat publik. Sikap seperti ini juga bisa membahayakan bagi internal partai lokal besutan mantan GAM tersebut. Apa yang dulu mereka perjuangkan dengan senjata sampai kini belum terwujud. Namun kini perjuangan itu telah bertukar arah. Dari perang ke damai. Dari senjata ke ranah politik. 

Bagaimana memperjuangkan cita-cita bila terus bertengkar. Begitu juga pejuang di jalur lain. Mereka yang dulu turut berjuang di jalanan, mengorganisir tuntutan untuk demonstrasi. Mereka juga punya peran yang amat besar sehingga mereka juga tidak bisa disepelekan sekarang. 

Mereka harus dianggap kawan seperjuangan bagi partai penguasa, PA. Persatuan yang dimaksud di sini bukan berarti “seragam”. Silakan punya wadah yang berbeda, tapi semua punya tujuan yang sama. “Eh jeut meurangkapat, lumpoe wajeb sama.” 

Mimpi yang dimaksud adalah menuju Aceh yang makmur, adil dan bermartabat. Namun, apa yang dipertontonkan para tetua PA saat ini benar-benar kekanak-kanakan. Terkesan tidak siap berdemokrasi. 

Para pemimpin harus lebih mau merenung, bahwa kekuasaan hari ini adalah buah perjuangan panjang. Apa yang diicapai hari ini adalah buah pengorbanan banyak nyawa, harta dan tenaga. Maka amatlah naif setelah perjuangan mulai muncul harapan, malah mereka meruntuhkan dengan saling menjatuhkan. Semua harus kembali ke khittah. Tidak ada pemerintah demokrasi manapun sukses tanpa dukungan politik yang cukup. 

Pemerintah Aceh saat ini seperti meninggalkan gerbong. Gubernur naik melalui partai yang beliau bangun sendiri. Ini berbeda dengan gubernur lain yang nempel dengan parnas. Artinya mereka diusung atau didukung. Maka naif sekali bila melihat kepemimpinan Aceh saat ini. 

Apa jadinya pemerintah ini tanpa dukungan politik. Apa jadinya pemerintah yang terus melawan partainya? 

Kasus lambannya APBA-P 2015 dan belum dibahasnya APBA 2016 menjadi contoh. Di legislatif, penghuni mayoritas adalah PA. Gubernur juga PA. Namun jalan mereka tak lagi searah. Sehingga upaya saling jegal terus terjadi. Salah siapa? 

Untuk melihatnya mudah saja. Lihat saja arus besar politik saat ini. Konsolidasi Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) menjadi penunjuk bahwa Gubernur sudah tidak punya dukungan politis lagi. Salah siapa? 

Bukankah masalah selalu datang dari Meuligoe Gubernur? Dan ini membuat frustasi tokoh politik Aceh. Perasaan diabaikan kekuasaan, mempersatukan mereka. Bila sudah begini maka pemerintah ini akan menjadi sasaran tembak para politisi. Bahkan gawatnya Gubernur sekarang dilawan oleh anak-anaknya. 

Maka patut kita serukan mereka melakukan reposisi pola pikir masing-masing. Gubernur selaku orang yang dituakan agar suka mendengar, suka bertanya, dan suka mengajak. Beliau harus menjadi orang tua yang bijak. 

Selama ini terkesan beliau lebih suka mendengar orang lain daripada anak-anaknya. Padahal orang yang didengarnya terlalu suka menghembus syair perang di kupingnya. Suka menjelek-jelekkan rumahnya sendiri bahkan mengajak “toh ek lam kanot bu droe“. 

Sisa pemerintahan ini harus fokus pada tujuan. Seperti diserukan banyak pihak maka persatuanlah obatnya. PA tidak boleh meninggalkan Gubernur. Bisa jadi beliau saat ini “diba le geunteut” karena abainya sang anak. 

Mereka tidak mengiringi beliau, jarang menjenguk beliau, jarang mengingatkan beliau dan tidak berusaha menyenangkan beliau. Mungkin dalam ketuaan usia beliau maka butuh perhatian khusus. Maka bila PA tidak melakukannya, pihak lain akan memanfaatkan ini. 

Mereka akan tiap hari menghibur beliau dengan syair-syair indah. Sehingga mereka mudah memengaruhinya. Maka jangan tinggalkan beliau. Berlakulah sebagai anak yang berbakti. Dalam situasi apapun dilarang melawan orang tua kecuali beliau sudah meninggalkan Islam. 

Mari kembali ke posisi masing-masing, bersatu untuk tujuan bersama. Tujuan yang dibangun atas darah dan nyawa syuhada. Mari tuai harapan para yatim, korban konflik dan janda pejuang. Meneguhkan janji membawa kesejahteraan bagi segenap penghuni bumi Aceh. Atau Anda akan dimakan sumpah.[]