SEMUA kita pasti akan melalui masa dimana otot-otot tubuh mulai terasa kendur. Ingatan mulai melemah, jarak pandang mulai perlahan menurun, dan kecepatan langkah mulai berkurang. Di fase-fase ini banyak orang rentan diserang penyakit. Di mana-mana olahraga adalah salah satu di antara berbagai alternatif yang akan dilakukan untuk mengusahakan tubuh agar tetap sehat.

Di kota Wuhan, propinsi Hubei, China, banyak orang menyediakan waktu secara khusus untuk berolahraga ditiap harinya. Entah itu untuk bermain basket, sepakbola, voli, bulutangkis, tenis, ping pong, dan sejenisnya. Bahkan kaum tuanya melakukan dansa sebagai jenis dari olahraga kebugaran. Sehingga di sini banyak kita temui orang tua yang masih sangat sehat dan kuat, walaupun sudah berusia lanjut.

Dansa sebagai salah satu jenis tari yang dikenal berasal dari kebudayaan barat banyak disukai oleh kaum tua di sini. Dansa yang mereka lakukan inipun sama halnya dengan dansa yang kita ketahui. Di mana dilakukan secara berpasangan antara pria dan wanita dengan berpegangan tangan atau berpelukan. Iringan musik-pun turut pula menambah meriah suasana lantai dansa. Saat ini ada beragam jenis dansa, ada yang dikenal dengan cha cha, rumba, samba, jive, paso double, waltz, romantic, slow foxtrot, quick step vienese waltz, tango, dan lain sebagainya.

Kegiatan dansa kaum tua Wuhan ini dapat kita temui hampir saban hari, ketika sore dan malam hari menjelang. Bahkan musim dingin dengan suhu udara yang hampir mencapai mines derjat celcius di Wuhan kini tak menjadi penghalang yang berarti untuk kegiatan mereka ini tetap berjalan. Kita bisa melihat bagaimana kaum tua Wuhan dengan kompak mengikuti setiap alunan musik dipadu gerakan yang begitu lincah. Menggoda mata untuk berhenti sejenak melihatnya. Mereka melakukan kegiatan ini secara bersama dalam jumlah banyak, baik pria maupun wanita. Kegiatan dansa ini dapat kita lihat di beberapa titik di areal publik kota Wuhan, seperti di area Valley Plaza, Italy Street Style, di dekat Antaikang Drug Store, di taman-taman, dan beberapa tempat lapang lainnya.

Valley Plaza dan Italy Street Style menjadi tempat strategis memang, tidak saja karena tempatnya yang lapang tapi juga banyak didatangi pengunjung. Valley Plaza dan Italy Street Style merupakan tempat keramaian di Wuhan, karena di sini ada terdapat berbagai hal yang diinginkan pengunjung. Seperti bioskop, restoran, karaoke, tempat bermain, supermarket, mall-mall besar, dan lain sebagainya. Tiap harinya di sini diramaikan oleh orang-orang yang ingin jajan, berbelanja, menonton bioskop, perawatan kesehatan, dinner, karaoke-an, bermain games, atau hanya sekedar berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu kosong.

Ada banyak kebiasan unik lainnya yang dilakukan orang-orang tua di Wuhan dalam menghabiskan hari-hari tua mereka dengan berkumpul bersama teman-teman seumuran. Sebagian ada yang membuat komunitas-komunitas kecil, sehingga di sana mereka dapat berkumpul dan melakukan aktifitas secara bersama. Hal ini turut pula menjadi wadah diskusi diantara mereka.

Selain kegiatan dansa juga dapat kita lihat aktifitas lainnya yang mereka lakukan seperti menulis kaligrafi karakter Han, lari maraton, latihan tari, dan sejenisnya. Ada juga yang gemar latihan taijiquan (tai chi). Taijiquan adalah salah satu bentuk seni beladiri dan senam kesehatan aliran halus dari negeri para kaisar ini (China). Pakaian khas Chinapun turut tampak mereka kenakan ketika taijiquan diperagakan. Bahkan ada juga yang memilih untuk bermain mahjong atau kartu sambil berbincang-bincang dan tertawa bersama. Ini dapat dengan mudah kita temui di perkarangan-perkarangan taman yang ada. Hal ini tidak saja dimainkan oleh kaum pria, tetapi juga para wanitanya. Berbekal kursi lipat kecil berbahan kayu dan plastik yang mereka bawa dari rumah, merekapun mulai bermain.

Jika kita menyempatkan pergi kedaerah Hubu Alley atau yang umum dikenal dengan sebutan Hubuxiang, maka kita akan menemukan hal yang berbeda pula. Di tempat yang terkenal sebagai tempat wisata makanan di Wuhan ini, orang-orang bahkan yang sudah lanjut usia berkumpul untuk menonton Jingju. Jingju atau Beijing opera adalah sejenis pertunjukan kisah yang berwujud teater tradisional diiringi musik. Pemainnya mengenakan kostum yang rumit dan berwarna-warni. Wajah para pemainnya juga dihiasi dengan anekaragam corak dan warna. Dari setiap corak dan warna wajah yang dihiasi memiliki makna yang berbeda-beda. Contohnya saja ada yang bermakna orang tersebut pembohong, bijaksana, pemarah, pemurung, dan lain sebagainya. Namun kini, jingju banyak digemari oleh kalangan tua saja. Sedang anak-anak mudanya menganggap ini sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang (kuno). Jadi banyak dari kaum mudanya tidak menyukai jingju.

Kaum tua Wuhan tergolong sebagai manusia yang aktif. Betapa tidak, di usia yang terbilang tidak muda lagi ini saja mereka masih melakukan berbagai aktifitas. Mereka benar-benar ingin memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Hal patut yang perlu kita contoh dari mereka adalah dalam hal menghargai waktu, mengisinya dengan hal-hal yang positif tentunya. Ini tentu harus menjadi sentilan kepada kaula muda yang hari ini masih bermalas-malasan.[]

*Al-Zuhri, Alumnus UIN Ar-Raniry, sedang melanjutkan studi Master of Communication Studies di Huazhong University of Science and Technology (HUST), melaporkan dari Wuhan, Propinsi Hubei, China (Tiongkok).