Kuah beulangong, menjadi salah satu kuliner lawas khas Aceh yang hingga kini masih eksis. Kuah ini diperkirakan sudah ada sejak zaman kesultanan.

Selain sebagai sajian, kuah beulangong ini merupakan cara raja-raja Aceh menjaga kebersamaan dan silaturahmi. Kuah beulangong menyatukan kebersamaan masyarakat melalui proses memasak, yang menggunakan kuali besar dengan diameter sekitar satu meter.

Untuk menghasilkan kuah beulangong, masyarakat memang harus bersama-sama dan bergotong-royong untuk mempersiapkannya. Maka tak heran jika masyarakat Aceh selalu kompak dan memiliki rasa kebersamaan.

Hingga saat ini, tradisi memasak kuah yang selalu melibatkan banyak warga, khususnya para lelaki masih terus dilestarikan. Kuah beulangong bisa dijumpai di hajatan besar atau kecil, seperti pesta perkawinan, acara keagamaan, acara adat, hari raya, atau ada juga yang memasaknya hanya untuk menjaga kekompakan antar warga saja

Hampir di setiap gampong (desa) di Aceh memiliki paling sedikit empat kuali besar. Kuali-kuali tersebut biasanya di simpan di meunasah (tempat ibadah atau mushola) desa, dan warga secara gotong-royong mengambilnya untuk di bawa ke tempat hajatan.

Selanjutnya, masyarakat akan menyiapkan bahan utama pembuatan kuah beulangong. Bahan utamanya bisa daging sapi, daging kambing, atau daging kerbau yang dicampur dengan buah nangka, tapi ada juga yang menggunakan pisang kapok.

Memasak kuah beulangong membutuhkan bumbu yang cukup banyak, yang terdiri dari kelapa gongseng, kelapa giling, cabai merah, cabai kering, cabe rawit, bawang putih, jahe, kunyit, ketumbar gongseng, kemiri, lengkuas, dan masih banyak bumbu lainnya yang semuanya digiling.

Setelah semua bahan-bahannya siap, daging yang sudah dipotong kecil-kecil dimasukkan ke kuali besar. Selanjutnya, aduk dengan bumbu yang telah tersedia hingga merata. Jangan lupa, taburi garam sesuai selera. Lalu, siram dengan air secukupnya. Tunggu sampai daging masak setengah matang hingga bumbunya meresap.

Kemudian, masukan buah nangka muda yang telah di potong kecil-kecil bersama bawang yang telah diris ke dalam kuali. Tambahkan air lagi, dan biarkan hingga masak.

Sambil diaduk, aroma bumbu kuah beulangong sangat menggoda dan gurih. Tidak lama kemudian, kuah beulangong siap disantap dengan nasi putih. Namun, jika ingin rasa gurih khas kuah beulangong terasa, jangan dicampur dengan nasi, cukup makan terpisah saja.

Kuah beulangong bisa dinikmati dengan sanak keluarga dan warga sekitar, sehingga sangat cocok disajikan saat Lebaran tiba.[] Sumber: otonomi.co.id