Oleh Sarbini Abdul Murad
Foto Aylan Kurdi, anak kecil yang ditemukan tewas di Pantai Turki, menghentakkan dunia. Anak kecil yang tak berdosa menjadi korban bersama para pengungsi lain yang berasal dari Suriah. Ia menyeberangi Pantai Turki dengan kapal penuh kelebihan muatan menuju Pulau KOS, Yunani.
Para pengungsi mempertaruhkan nyawa dengan menerjang ombak ganas dan menantang kumpulan hiu yang siap menerkam. Dengan sarana kapal yang sangat memprihatinkan, mereka nekad melawan badai kematian dengan satu tekad selamat dari keganasan perang yang telah merenggut ribuan nyawa rakyat Suriah.
Foto anak kecil itu sangat menggugah nurani siapa pun yang melihat dan akan menitikkan air mata sedih karena membayangkan betapa berat dan penuh risiko perjuangan pengungsi yang lari dari kematian perang menuju kematian lain yang terus mengintai dan tidak kalah mengerikan.
Aylan kurdi adalah salah satu episiode cerita yang begitu memilukan bagi dunia. Bersama jutaan pengungsi lain yang berasal dari Timur Tengah, mereka kabur menyelamatkan diri dari ganasnya perang yang tak ada tanda akan berakhirnya, justru semakin runyam.
Masalah ini tidak terlepas dari keterlibatan negara adidaya di sana. Mereka mempunyai agenda tersembunyi karena mereka mendapatkan keuntungan dengan runyamnya situasi di negara yang terus berkonflik. Jumlah korban yang terus meningkat bukanlah sesuatu yang penting bagi mereka.
Yang penting adalah politik, ekonomi, atau ideologi mereka. Maka dari itu, tidak perlu heran jika mereka begitu ngotot ikut campur di setiap palagan perang dengan dalih memerangi teroris. Keuntungan ekonomi yang menggiurkan menjadi faktor utama sehingga kata sepakat untuk berdamaian masih sangat jauh.
Memang Eropa adalah tujuan utama para pengungsi. Banyak asa yang digantungkan di sana dan banyak mimpi yang dicitakan di negara maju tersebut. Yang pasti mereka ingin hidup dalam kedamaian dan ketenteraman serta dapat membesarkan anak-anak mereka tanpa dihantui ketakutan walaupun dalam kenyataan nantinya tak seindah seperti apa yang mereka banyangkan.
Belum tentu lingkungan baru sepenuh hati dapat menerima mereka karena perbedaan agama atau kultur. Bisa jadi hal ini menimbulkan masalah lain dengan masyarakat setempat. Diskriminasi warna kulit dan agama belum sepenuhnya luntur di sebagian masyarakat Eropa. Dalam hal ini, pemimpin Eropa masih bersikap ambigu dalam menyikapi gelombang pengungsi yang secara massif menyerbu.
Ada yang secara terbuka menerima pengungsi tanpa melihat latar belakang ideologi. Hanya sisi kemanusiaan yang menjadi landasan kebijakan. Ada juga yang menolak dengan berbagai argumentasi, tetapi alasan agama memicu dasar penolakan meski tidak terbuka disampaikan.
Memang ada hikmah di balik beredarnya foto Aylan Kurdi di dunia maya. Dunia seakan baru menyadari bahwa di Suriah sekarang sedang berlangsung pemusnahan umat manusia dan peradaban. Bila perang ini dibiarkan terus, kita tidak bisa membayangkan bagaimana krisis kemanusiaan sudah di ambang batas yang sangat membahayakan.
Bukan hanya Suriah, Yaman sebagai negara lelulur para habaib pun kini sedang dilanda krisis kemanusiaan yang begitu memilukan. Perang telah memporak-porandakan Negeri Ratu Bilqis tersebut. Faktor ideologi yang telah bercampur dengan kemasan politik telah membutakan hati dan pikiran para pemimpin politik.
Perang dijadikan solusi utama dalam menghadapi setiap perbedaan dan krisis politik. Seakan ingin menegaskan bahwa tidak ada jalan lain dalam menyelesaikan kemelut politik, selain perang dan perang.
Napas panjang perang yang berkecamuk menjadikan anak negeri hidup terlunta-lunta di kamp-kamp pengungsi. Dengan sarana seadanya, mereka mengemis untuk bisa menopang hidup di negeri orang.[]
* Sarbini Abdul Murad, Presidium MER-C