LHOKSEUMAWE - Syahdanial alias Kolonel alias Konel, pelaku usaha kecil di Aceh Utara berharap agar pemimpin Aceh jangan hanya memandang ke atas, sehingga lupa melihat…
LHOKSEUMAWE – Syahdanial alias Kolonel alias Konel, pelaku usaha kecil di Aceh Utara berharap agar pemimpin Aceh jangan hanya memandang ke atas, sehingga lupa melihat ke bawah untuk mengetahui kondisi rakyat kecil.
Konel merupakan korban konflik yang menetap di Gampong Tambon Baroh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Masa konflik bersenjata, ia mengalami kekerasan dari aparat keamanan hingga giginya rontok.
Dia dipukul oleh aparat Brimob BKO di Simpang Jam depan PT PIM tahun 2003. Saat itu, dia dituduh sebagai penampung persembunyian para kombatan, salah satunya (almarhum) Kak Din Ulee Peulisi (GAM) Sagoe Budjang Salim Daerah Tsa Wilajah Pase, kata Dani, tokoh pemuda Kecamatan Muara Batu, tetangga Kecamatan Dewantara kepada portalsatu.com, Senin, 8 Februari 2016.
Konel telah menekuni usaha pembuatan jok mobil sekitar 20 tahun. Lantaran minim modal, ia kalah bersaing dengan pelaku usaha lainnya. Itu sebabnya, ia berharap Pemerintah Aceh yang kini dipimpin mantan elite GAM memberikan perhatian kepada korban konflik yang mau membuka lapangan pekerjaan agar dapat mengembangkan usaha kecil.
Harapan lon keu pemimpin Aceh u keu, bek gadoh tangah u ateuh, tuwo ngieng u miyub kiban kondisi kamoe rakyat yang perle dipeuduli untuk peujak usaha yang ubeut-ubeut (harapan saya untuk pemimpin Aceh yang akan datang jangan terlalu asyik memandang ke atas, sehingga lupa melihat ke bawah bagaimana kondisi kami rakyat kecil yang butuh kepedulian dalam mengembangkan usaha kecil), ujar Konel.
Konel mengaku selama ini pendapatannya sehari-hari sekitar Rp70.000. Hasil pendapatan itu, ia harus menyekolahkan tiga anaknya, belum lagi untuk kebutuhan lainnya. Jika mantan GAM yang saat ini sudah menjadi pemimpin pemerintahan dan anggota dewan ingin merasakan penderitaan yang saya alami, saya minta mereka menukar posisi kedudukan sesaat saja biar mereka tahu bagaimana rasanya hidup sebagai rakyat kecil, katanya.
Menurut Konel, meski Aceh sudah damai 10 tahun tahun lebih, namun ia belum merasakan sentuhan Pemerintah Aceh yang mengelola anggaran triliunan saban tahun. Bek an ji bantu modal usaha, keu gantoe gigoe mantong hana pat coek peng. Mungken karna lon hana tuoh peugot proposal (jangankan dibantu modal usaha, buat ganti gigi saja tidak tahu ambil uang di mana. Mungkin karena saya tidak tahu cara membuat proposal), kata Konel, seperti dikutip Dani.[] (idg)