Rafly pun kemudian berkenalan dengan lagu-lagu genre modern semisal pop yang sedang ngetrend masa itu.
BANDA ACEH – Senator asal Aceh, Rafly, menceritakan perjalanan hidupnya sehingga sangat mencintai musik. Hal itu dimulai saat dia berkenalan dengan dalae (dalail khairat), salah satu budaya Aceh yang identik dengan syiar Islam.
Dulu ketika saya SD, setiap malam Jumat pergi dalae bersama ayah saya yang juga syech dalae di Aceh Selatan, dan berinteraksi bersama masyarakat dengan menceritakan persoalan dan pesan-pesan ketauhidan, kata Rafly saat mengisi seminar yang dilaksanakan oleh Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Aceh di Kompleks Bappeda Aceh, Banda Aceh, Kamis, 26 November 2015.
Sebelum menceritakan hal tersebut, pria itu terlebih dahulu melantukan lagu berjudul Asai Nanggroe. Lagu ini merupakan salah satu karya Rafly yang populer di Aceh.
Rafly mengaku mulai mengenal gitar saat duduk di bangku SMP. Tidak mudah baginya untuk mendapatkan salah satu alat musik tersebut. Dia harus menanam kacang selama empat bulan untuk memperoleh gitar seharga Rp25 ribu pada masa itu.
Sejak itu Rafly terus mengasah bakat seninya. Dia kemudian mengharuskan diri untuk belajar dunia musik karena ada arus globalisasi yang menuntunnya, untuk beradaptasi dengan media-media yang berkembang. Rafly pun kemudian berkenalan dengan lagu-lagu genre modern semisal pop yang sedang ngetrend masa itu.
Inilah motivasi saya, saat itu ada energi modern yang masuk kepada saya dan saya berpikir bagaimana mengomunikasikan energi ini dalam unsur seni musik pada waktu itu, ujar Rafly.
Di masa mengenyam pendidikan di bangku kuliah, Rafly kemudian masuk ke dalam genre musik rock happy metal. Jenis musik tersebut sedang booming masa itu. Rafly mengatakan lagu-lagunya penh dengan esensi dan pesan-pesan yang ditransformasi dan dikemas dalam lagu-lagu, sehingga penuh dengan semangat.
Hampir seluruh lagu-lagu rock happy metal menyuarakan persoalan kontekstual yang ada di lingkungan tersebut. Inilah yang membuat Rafly semakin berminat dengan aliran musik rock metal.
Nah, saya melihat ini menjadi media yang benar-benar objektif untuk menyampaikan persoalan yang objektif juga. Seolah-olah kita merasakan ingin terlibat dalam peristiwa itu. Barangkali ini hal-hal penting dan esensi daripada sebuah kesenian secara keseluruhan, katanya.
Rafly juga menceritakan dirinya pernah mengenakan seragam PNS di tahun 1990. Saat itu dia ditugaskan di daerah Pucok Pala. Menjadi PNS tidak serta merta membuat Rafly meninggalkan dunia musik. Dengan segudang pengetahuannya di musik-musik aliran modern, Rafly kemudian bersentuhan dengan seni budaya lokal di tempatnya bertugas. Di Pucok Pala, Rafly mengenal top daboh dan dodaidi yang disenandungkan oleh kaum ibu di daerah setempat.
Bertemu melodi itu menjadi inspirasi baru lagi bagi saya. Dan di sanalah lahir cita-cita saya untuk mengolaborasikan ruh tradisional, ditampilkan dalam bentuk kekinian sehingga kelihatan modern dan dinamis, tetapi tetap memiliki cita rasa yang mengglobal secara esensi, kata Rafly sembari mempraktekkan suara khasnya itu.[]