PRESIDEN Soeharto pernah berkunjung Pabrik Gula Cot Girek di Aceh Utara pada Mei 1970. Empat bulan kemudian, pengoperasian pabrik gula itupun diresmikan. Bagaimana ceritanya?

Para pejabat pemerintah daerah Aceh Utara sangat sibuk mempersiapkan penyambutan orang nomor wahid di Republik Indonesia. Tidak hanya pejabat eksekutif, masyarakat dan anak-anak sekolah di kawasan itupun ikut “sibuk”.

Anak-anak sekolah dasar (SD) sudah dilatih baris-berbaris dan bernyanyi, sepekan sebelum kunjungan Presiden Soeharto. Sementara rumah-rumah penduduk yang akan dilewati presiden bersama rombongan telah disulap dengan cat putih dan merah.

Ketika rombongan tiba dengan beberapa bis besar melewati jalan yang berpasir belum diaspal tentu akan membuat debu mengebul kesana kemari di sepanjang lintasan sekitar 15 Km dari Lhoksukon ke Cot Girek. Beberapa upaya penyiraman dilakukan sebelum rombongan lewat, tapi tidak kuat menahan sengatan terik matahari, sehingga jalan yang baru disiram air berkali-kali itu mengering lagi seketika.

Anak-anak SD dengan menggunakan bendera yang terbuat dari bahan kertas manila menggerak-gerakkan tangannya seolah menyampaikan pesan selamat datang di daerah tersebut. Murid SD ditemani gurunya menunggu berjam-jam.

Akan tetapi, ternyata Presiden Soeharto tidak ada dalam rombongan menumpang bis itu. Presiden menggunakan helikopter dari Bandara Malikussaleh menuju Cot Girek ditempuh dalam waktu 15 menit. Presiden mendarat di dekat Pabrik Gula (PG) Cot Girek. Setelah acara singkat selesai, Soeharto lantas pulang mengikuti jalur dan prosedur saat kedatangannya.

PG Cot Girek kemudian diresmikan pengoperasiannya oleh Menko Ekuin Sri Sultan Hamengkobowono IX, 19 September 1970.

Struktur pimpinan PG Cot Girek saat diresmikan adalah Ir Soedarsono (Pimpinan), TR Husein, (Asisten Pimpinan),  AJ Wurangian (Kepala Instalasi), Marsandi (Kepala Bagian Instalasi), Sukirman BSc (Kepala Bagian Tekhnologi), JB Sidabutar (Kepala Bagian Umum), R Prajitno (Kepala Bagian Keuangan), Soemardjono (Sekretaris), R Bambang Oetoro (Kepala Bagian Tanaman), Karyono (Kasubag Tanaman), Ir Siswojo, (Kasubag Mekanisasi), Ir TM Joesoef (Kasubag Research), Kapten Memet R (Kasubag Drainage/Irigasi), Marsudi (Kasubag Angkutan), Moehtar Sjamaan (Kasie Kemotoran).

Berikutnya, lr Sumarat (Kepala Bagian Teknik Sipil) sampai Juli 1970 – diganti dengan Dede Suwardi, Djamil Said BSc (Kasub Internal Control), M. Nur Machmud (Kepala Penyediaan/Pembelian Bahan Umum), R Siswandi (Kepala Penyediaan/Pembelian Bahan Instalasi/Pabrik), Dr. THD Pandjaitan (Kepala Rumah Sakit), Ustadz Abdullah Hasan (Kasie  Pendidikan Agama),  M Nurdin (Kasie Personalia), Mayor S. Soedjono (Perwira Keamanan), Peltu Zakaria Amin ( Wa Pa Keamanan), Zainuddin (Ka Perwakilan Kantor Medan),  dan J  Tanuwidjaja (Ka Perwakilan Kantor Jakarta).

Sedangkan ahli gula yang bekerja di PG Cot Girek pada saat diresmikan yaitu Aminuddin BSc, Nurdin Saiman B.Sc, Rusdi BSc. Ny. Sutji  Hartati Rusdi BSc, Djamhari BSc, Soeparno BSc, Imam Dairubi BSc, Wachjono BSc dan Farid Fuadi BSc.

Tim Polandia saat pabrik mulai dibangun sampai saat peresmian PG Cot Girek ialah  Korzekwa MSc (Chief Engineer), Dzielak BSc.Eng (Head Engineer for PowerAssembly), Makowski (Foreman for Turbine House), Polanowski MSc.Eng, (Head Engineer for Technologie), Pacewiez MSc.Eng (Head Engineer for Electrics).

Selanjutnya, Duda MSc.Eng, (Automatic Engineer), M Pesek (Foreman for Mill Stations), Boryk (Expert of Centrifuges), Narzia Kiewirz (Foreman for Turbine House), Stanislaw Hubay (Foreman for Turbine House), Kisielewski (Foreman for Turbine House), Korzekoska (Technologist Engineer), Olkowez (Foreman).

Lima belas tahun setelah diresmikan, PG Cot Girek akhirnya berhenti beroperasi pada 1985. Tidak ada data yang pasti untuk dapat mengetahui alasan kenapa pabrik gula itu ditutup. Ada beberapa keterangan, tetapi sangat diragukan keabsahannya. Yang paling banyak disebutkan adalah tingginya beban pokok penjualan gula. Tingginya BPP ini disebutkan karena kurangnya subsidi yang diberikan pemerintah terlalu kecil, sehingga mengakibatkan unit cost gula yang diproduksi tidak ekonomis.

Alasan ini tampaknya terlalu lemah. Sebab, terutama setelah tahun 1982 pupuk urea yang sangat dibutuhkan tersedia dengan mudah dan murah. Maklum, tahun 1982 telah berdiri PT Pupuk Iskandar Muda di Aceh Utara. Alasan lain adalah kondisi kemanan, hal ini juga dirasakan lemah, karena posisi Aceh Utara dengan adanya PT PIM dan PT Arun NGL merupakan obyek vital yang dijaga ketat aparat keamanan.

Alasan selanjutnya yang sering dikemukakan, kekurangan tenaga kerja terutama untuk buruh tanam dan tebang. Hal ini juga terasa kurang tepat, karena untuk kebutuhan tenaga kerja, dibantu pemerintah dengan pelaksanaan pola transmigrasi yang diarahkan berdekatan dengan lokasi perkebunan sebagai sumber tenaga kerja.

Kalau melihat capaian produksi rasanya perlu dicermati rendahnya produktivitas baik dari bahan baku tebunya maupun capaian rendemen akhir. Hasil penelitian berdasarkan capaian tanaman percobaan disimpulkan, perusahaan wajib menjaga mutu bibit dengan menambah varietas dari bibit yang diimpor. Demikian dikutip dari artikel berjudul “Mengenai Pabrik Cot Girek”, diposting Martum Pulungan di plantersclub.blogspot.co.id pada 20 September 2013.

Lebih 30 tahun setelah PG Cot Girek tiarap, muncul pula sejarah baru di Aceh. Harga gula mencapai Rp20 ribu per Kg pada bulan puasa lalu.

Lantas, adakah solusi lainnya dari Pemerintah Aceh untuk mengantisipasi kemungkinan melambungnya kembali harga gula di ruang damai ini? Bukankah penting langkah antisipasi agar tidak mencekik masyarakat dan pengusaha kecil di provinsi “sejuta warung kopi ini” yang butuh gula pasir dalam jumlah besar saban hari? Misalnya, membangun pabrik mini atau dengan kapasitas produksi sesuai kebutuhan Aceh, sekaligus dapat membuka lapangan kerja baru bagi penduduk Aceh?[](idg)