Masih berumur 19 tahun, Michael Sayman adalah salah satu pegawai termuda Facebook saat ini. Nah, sebelum menjadi programmer utama di Facebook, remaja satu ini melalui perjuangan yang memilukan.

Sudah buat aplikasi di umur 13 tahun

Michael baru mengenal dunia aplikasi smartphone di tahun 2010 atau saat umurnya baru 13 tahun! Saat Steve Jobs untuk pertama kalinya membuka toko aplikasi iOS Apps Store di tahun itu, Michael tertarik untuk membuat aplikasi dari situsnya 'Club Penguin'. Blog Michael berisi tips dan trik seputar game, dan dia berharap aplikasi mobile bisa membuat pengunjung situsnya meningkat.

Sayangnya, saat itu di sekolahnya di Florida, Amerika, tidak ada pelajaran tentang pemrograman atau pembuatan aplikasi. Jadi, Michael memutuskan untuk belajar sendiri dari tutorial-tutorial yang dia temukan di Google.

Saat selesai membuat aplikasi Club Penguin, masalah belum kembali muncul karena Michael harus membayar USD 100 sebagai biaya pendaftaran masuk ke iOS Apps Store. Orang tua Michael yang saat itu didera kesulitan ekonomi akhirnya mau memberikan uang pendaftaran, dengan syarat jika aplikasi itu gagal Michael harus bekerja di restoran mereka.

Masih SMP, sebulan bergaji Rp 60 juta

Untungnya Dewi fortuna menghampiri Michael. Mengingat di 2010 hanya ada sekitar 150.000 aplikasi di iOS Apps Store, Club Penguin dengan mudah masuk deretan 10 aplikasi terpopuler. Awalnya Michael mengaku orang tuanya tidak terlalu peduli dengan kesuksesan aplikasinya.

Namun semua berubah setelah Michael mendapatkan USD 5000 (sekitar Rp 60 juta) di bulan pertamanya meluncurkan Club Penguin. Ibunya yang menerima pembayaran royalti kaget pendapatan anaknya sudah melebihinya. Bahkan, setelah itu Michael membuat game bertema Club Penguin yang juga tak kalah suksesnya.

Jatuh miskin mendadak

Akan tetapi, kesuksesan itu tidak bertahan lama. Tidak adanya pola marketing yang jelas membuat aplikasi buatan Michael lain gagal di iOS Apps Store. Hal itu diperparah dengan resesi yang menghantam Amerika di tahun 2012. Ayah Michael dipecat dari pekerjaannya dan rumah mereka terpaksa dijual.

Ketika itu keluarga Michael hampir putus asa dan kembali ke negara asal mereka, Peru. Namun Michael menyakinkan keluarganya untuk tetap tinggal dan bersedia bekerja lebih keras untuk membiaya keluarganya.

Tidak sia-sia, Michael akhirnya berhasil bangkit di tahun 2013 dengan game '4 Snaps'-nya. Meski hidup pas-pasan di apartemen kecil, Michael rela menghabiskan uang Rp 500 ribu per hari untuk biaya promosi 4 Snaps di Instagram.Berkat strategi marketingnya itu, 4 Snaps berhasil menjadi game nomor satu di iOS Apps Store.

Ironisnya, di saat yang sama Michael gagal ujian di setengah mata pelajaran yang diajarkan di SMA-nya akibat terlalu konsentrasi pada game itu. Padahal sebelumnya Michael sering mendapat nilai A.

Diundang ke kantor Mark Zuckerberg

Keberhasilan 4 Snaps sendiri membuat nama Michael mendunia dan akhirnya dilirik langsung oleh bos Facebook, Mark Zuckerberg. Michael kemudian diajak berkunjung ke Facebook, sebelum akhirnya ditawari kerja magang dengan gaji USD 6000 (sekitar Rp 80 juta) per bulan! Kini Michael sudah menjadi pegawai tetap Facebook, tepatnya sebagai software developer Facebook.[] sumber: merdeka.com