LHOKSEUMAWE – Nama lengkapnya Khalida Zia, mahasiswi Fakultas Ilmu Politik dan Pemerintah, ia kerap antusias terhadap pasien gangguan jiwa di Aceh. Jiwa sosialnya tergerak penuh dalam membimbing dan memfasilitasi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Wanita ahli bicara dan bercerita ini merupakan ketua Partnership Griya Schizofren Aceh yaitu komunitas yang fokus untuk pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Aceh.
Zia panggilan akrabnya, kepada portalsatu, mengatakan telah banyak berkontribusi sejak komunitas ini dibangun di Aceh, Komunitas Griya Schizofren dibangun 10 April 2015 oleh lima pemuda Yelli Sustarina, S.Ked., alumnus Fakultas Keperawatan Unsyiah, Raudhah Darmi mahahasiswa Mipa Matematika Unsyiah, Musizatun Hasanah mahasiswi komunikasi UIN, Nasrullah S.P. alumnus Pertanian Unsyiah, dan Khalida Zia.
Saya tahu bahwa bicara dan berbagi pengalaman membuat hidup terasa lebih berarti, jika kita tidak punya uang, sedekahkan waktumu. Berbagi dan menginspirasi adalah kunci Ilmu Pengetahuan, katanya Zia.
Zia terlahir sangat berbeda dari sudaranya yang identik dengan pendiam, Zia tergolong wanita yang banyak berbicara dan bercerita, karena itu Zia mengiringi kegiatan kuliah dan organisasi sebagai latihan dalam mengulas kepekaan terhadap lingkungan.
Saya pekerja keras dan tidak ada pikiran untuk tidak membantu orang selagi kita mampu dan mau, ujar anak ke empat dari lima bersaudara ini.
Mahasiswa jurusan sosiologi ini seorang pajabat teras termuda di BEM FISIP Kabinet Sepakat 2015-2016. Ia dipercaya menjadi Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan pada Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP Unsyiah, ia dan tim sudah menjalankan 10 program pemberdayaan perempuan baik tingkat kampus atau masyarakat, dalam masa jabatan 10 bulan terhitung dari Maret-Desember 2015. Program kerja dibangun Zia di antaranya Seminar tentang keistimewaan perempuan bersama majelis rasulullah bersama pemateri asal Jakarta, Sekolah HAM perempuan di FISIP kerja sama dengan flower Aceh, Aksi peringatan hari kreativator dunia di Benteng Malahayati, kerja sama dengan Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT), dan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA), dan pembagian bunga dijalan dalam rangka memperingati hari Ibu 22 Desember 2015.
Tidak kenal lelah, memasuki penghujung akhir tahun, Zia bergabung bersama Komunitas Pemuda Inspirator Damai Aceh (Kupiah), lahir melalui alumnus Gen Peace Aceh 2015, Kupiah berdiri sejak 25 oktober 2015, ia berdiri pada posisi anggota Program Management.
Komunitas ini fokus untuk sosialisasi dan kampanye perdamaian di tingkat pemuda yang di gagas sebagai bentuk kepedulian pemuda dalam upaya maintain mempertahankan perdamaian di Aceh. Terdiri dari 33 pemuda Kupiah terus memperluas jaringan dan membangun komitmen perdamaian dikalangan pemuda.
Alumnus Sekolah HAM Perempuan Flower Aceh, angkatan 6 ini juga aktif pada komunitas Himpunan Mahasiswa Bireuen (Himabir), komunitas ini sebagai wadah silaturrahmi sekaligus perluasan jaringan bagi mahasiswa Bireuen yang ada di Banda Aceh.
Prestasi yang pernah ia raih yaitu menjadi juara II lomba essay di Fakultas Hukum Ekonomi Syariah UIN Ar Raniry 2015. Kemudian, menjadi juara harapan 1 debat nasional mewakili Universitas Syiah Kuala di Debate and Essay Competition, yang diselenggarakan oleh BEM FISIP Unsyiah, pada 14-17 Desember 2015.
Pada penghujung tahun 2015, saya kembali mendapat sebuah penghargaan, yaitu lulus seleksi menjadi anggota tim The Leader. Pada 27 Desember ini saya menjadi satu satunya anggota baru yang melengkapi jumlah anggota dri The Leader, saat ini 19 menjadi 20 orang. Sebagai anggota baru The Leader, saya menjabat sebagai tim Internal bidang Reseacrher, katanya.
The Leader adalah organisasi kepemudaan terbaik peringkat II di tingkat Nasional yang berdiri pada 2013 dan fokus pada isu peningkatan kapasitas pemuda di Aceh.
Teruslah membangun jaringan, saling besar dan membesarkan menuju Aceh yang lebih maju. Moto hidup saya adalah membuat kehebohan dengan kebaikan. Karena dengan kebaikan kita akan menginspirasi banyak orang. Jangan menjadi burung yang terbang bebas terlau lama hingga terlalu asyik dan lupa mengajak orang lain terbang bersama, ujar perempuan kelahiran Matang Glumpang Dua 9 Desember 1993 ini.
Zia memiliki kisah dan isnpirator pilihannya sendiri yang membuatnya terus berkembang menjadi perempuan yang berpengaruh di Aceh.
Khaleada Zia begitu tulisan namanya dengan ejaan lama, dia adalah seorang perdana mentri Bangladesh tahun 1991-1996. Sejak itu saya bertekat untuk menjadi perempuan selanjutnya yang akan memang tongkat perubahan untuk bangsa ini, kata putri dari pasangan Raswan Ishak dan Nur Asma.
Alkisah, saat duduk di bangku SMP Negeri 1 Peusangan Zia aktif pada kegiatan pramuka dan volly putri dan pernah mengukir prestasi juara III Porseni tingkat provinsi pada 2007.
Zia dikenal siswi cerdas dan nakal, ia pernah mendapat hukuman sampai dikeluarkan dari kelas inti.
Kelas 1, dan 2 SMP dulu di kelas inti, tapi karena bandel waktu kelas 3 dikeluarkan dari kelas inti, ini mejadi pukulan besar dan titik balik perubahan buat saya hidup saya, kemudian jadi lebih sadar dan peka terhadap lingkungan, sejak itulah muncul Khalida yang seperti sekarang, ujarnya dengan tertawa.
Zia mulai memprediksi perubahannnya di SMA Negeri 1 Peusangan, ia dipercayakan sebagai bendahara umum OSIS pada 2010-2011. Sampai sekarang ini Zia sangat mencintai kegiatan seminar, pelatihan, dan apa pun kegiatan yang dapat memotivasi, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Intinya ingin melihat dan belajar langsung tidak hanya dari cerita, ujarnya.
Pemilik IPK ini 3.76 terlibat sebagai tim peneliti kampung Binaan Prodi Sosiologi di Lamjamee, Kabupaten Aceh Besar.
Zia terus membangun, memperluas jaringan dalam menuju Aceh yang lebih maju. Moto hidupnya membuat kehebohan dengan kebaikan. Karena dengan kebaikan dapat menginspirasi banyak orang.
Jangan menjadi burung yang terbang bebas terlau lama hingga terlalu asyik dan lupa mengajak orang lain terbang bersama, prinsip hidupnya.[](tyb)