Khieng merupakan salah satu jenis bau dalam bahasa Aceh selain anyi/hanyi, chueng, khôh, khèp, khop, angèk, banga, phong, meuhöng, hanggôi, dan ceungèh. Khieng, sebagaimana khèp dan khop, merujuk kepada bau busuk sesuatu yang sangat menyengat, seperti bau telur atau bau bangkai. Meskipun maknanya hampir sama dengan khèp dan khop, di daerah-daerah tertentu khieng lebih banyak digunakan tinimbang khèp dan khop.
Banyaknya penggunaan khieng di daerah-daerah tertentu karena adanya anggapan bahwa khieng lebih keras baunya tinimbang khèp dan khop. Hal ini dibuktikan oleh dua kenyataan.
Pertama, baik khèp maupun khop, keduanya, selain digunakan untuk bau busuk suatu benda, juga digunakan sebagai nama panggilan seseorang. Penggunaan sebagai nama panggilan itu tentu saja bukan bermaksud mengejek, melainkan sekadar candaan. Umumnya orang tidak akan tersinggung jika disebut khèp atau khop. Misalnya, Ho ka si khep kah hana deuh-deuh uroe nyoe? atau Hai khop, ka-hei si khep siat keunoe.
Namun, tidak demikian dengan khieng. Kata ini tidak digunakan sebagai nama panggilan karena ada anggapan khieng merupakan sebutan untuk bau sesuatu yang sangat menyengat sehingga tidak pantas digunakan untuk nama panggilan seseorang. Jika tetap dipaksakan penggunaannya, pihak yang menjadi sasaran penyebutan itu akan tersinggung.