BANDA ACEH – Wacana mendaftarkan Kerkhof Peutjoet Banda Aceh ke organisasi kebudayaan PBB UNESCO mendapat respons positif dari sejarawan Aceh Rusdi Sufi. Jika ini terwujud menurutnya merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Aceh.

“Ini patut diapresiasi karena sebuah kebanggan bagi kita yang tidak ada duanya kuburan militer Belanda di tempat lain. Ini bukti hebatnya Aceh dalam perlawanan dengan Belanda,” katanya ketika dihubungi portalsatu.com, Jumat, 27 November 2015.

Meski lebih dikenal sebagai kuburan Belanda, jasad-jasad yang dikuburkan di Kerkhof Peutjoet tersebut kata Rusdi tak hanya berasal dari kalangan serdadu dan orang Belanda saja, tapi juga dari etnis Tionghoa.

“Sekitar 2.311 jenazah yang berada di Kerkhof, ini yang tinggal sekarang. Dulunya waktu tsunami juga ada kuburan yang rusak,” ujar Rusdi Sufi.

Menurutnya, sekarang ini Kerkhof juga bisa dijadikan sebagai salah satu tempat wisatawan lokal maupun turis-turis asing dengan harapan Kerkhof senantiasa dirawat dan ditanami pohon supaya asri.

“Benar-benar dirawat tempat ini karena sebuah tempat sejarah yang menyatakan Belanda kalah dalam melawan Aceh pada masa 1873 sampai 1942. Harapan saya tempat ini terus dirawat dan kitalah yang akan merawatnya, juga menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita saat mendengarkan bahwa Kerkhof akan menjadi warisan dunia,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, mantan atase militer Belanda di Jakarta Kolonel C.J. Kool pada Rabu, 25 November 2015 lalu bertemu dengan Wakil Wali Kota Banda Aceh Zainal Arifin. C.J. Kool yang ketika tsunami silam juga terlibat dalam rehab rekon Aceh mengatakan, kuburan serdadu Belanda Kerkhof Peutjoet Banda Aceh akan didaftarkan pada organisasi PBB yang menangani masalah pedidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yaitu UNESCO sebagai sebuah heritage warisan dunia. (Baca: Kerkhof Peutjoet Banda Aceh akan Didaftarkan ke UNESCO)

“Ini penting, sebagai bukti sejarah Aceh dan Belanda,” kata C.J. Kool.[]