TERKINI
TAK BERKATEGORI

Kejahatan Seksual Merajalela, Pemerintah Dinilai Cenderung Reaktif

BANDA ACEH – Direktur Yayasan Pulih Area Aceh Taufik Riswan mengatakan, kasus kejahatan seksual dan kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat. Tak hanya dalam…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.1K×

BANDA ACEH – Direktur Yayasan Pulih Area Aceh Taufik Riswan mengatakan, kasus kejahatan seksual dan kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat. Tak hanya dalam bentuk jumlah saja tapi juga perilaku sadisme ‘genk rape’ pemerkosaan yang dilakukan berkelompok.

“Peristiwa ini, selain menyiksa dan pembunuhan terhadap korban juga menunjukkan pada publik, betapa kasus-kasus seperti ini sangat mudah dilakukan oleh para predator kejahatan seksual terhadap anak. Dan sayangnya pemerintah cenderung respons reaktif, bukan prenventif,” kata Taufik melalui keterangan tertulis yang diterima portalsatu.com, Minggu, 8 Mei 2016.

Ia mencontohkan, peristiwa tragis yang dialami Yuyun, 14 tahun di Bengkulu yang sedang menjadi sorotan saat ini merupakan kasus berulang. “Dan kita tidak pernah belajar dari setiap peristiwa kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di sekitar kita,” katanya.

Menyikapi berbagai aksi terkait kekerasan seksual dan kejahatan di atas, juga sebagai bentuk solidaritas atas kasus yang menimpa Yuyun, pihaknya bagi tadi menggelar aksi simpatik di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Aktivis Koalisi Advokasi dan Pemantauan Hak Anak (KAPHA) Aceh, Sudarliadi Alisyahidar mengatakan, suara luka Yuyun merupakan suara ratusan anak-anak korban kekerasan yang terjadi di Indonesia tak terkecuali Provinsi Aceh.

“Kita tahu, peristiwa sebelumnya ada kasus Angeline di Bali yang dibunuh ibu angkatnya. Lalu kasus bocah di Kali Deres, dan masih banyak lagi, dan bagi kita rakyat Aceh pasti tahu kasus Diana. Dan mestinya negara yang diberikan kewenangan dan pengelolaan anggaran publik harus mampu belajar dari setiap peristiwa yang berualang ini,” katanya.

Aksi yang mengusung tema “Yuyun adalah kita, Stop kekerasan terhadap anak, dan Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual” itu diikuti sekitar 50-an peserta. Mereka adalah para aktivis pemerhati anak, praktisi anak, mahasiswa dan kelompok anak yang tergabung dalam Forum Anak Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

Kegiatan ini diprakasai sejumlah lembaga seperti Koalisi Advokasi dan Pemantauan Hak Anak (KAPHA) Aceh, Yayasan PULIH Area Aceh, YAB Aceh, PTP2A Aceh, The Puliher Institite, mahasiswa Piskologi Unmuha, Forum Anak Daerah Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, serta pegiat praktisi perlindungan Anak Taufik Riswan, Rida Nurdin, S.H (Advokat dan Pengancara Anak), Elviana (Kanit PPA POLDA Aceh) Endang Setianingsih (Psikolog P2TP2A Aceh).

“Agenda aksi simpatik ini berupa penyikapan dan orasi reflektif yang disampaikan oleh masing-masing dari peserta tentang situasi dan kondisi terakhir anak-anak di Indonesia dan Aceh, terutama terkait dengan kejahatan seksual dan kekerasan terhadap anak.”

Para peserta juga membagikan selebaran dan membentangkan spanduk yang mengajak publik untuk waspada pada predator kejahatan seksual. “Laporkan segera kekerasan terhadap anak, dan solidaritas dari Aceh untuk Yuyun sebagai bentuk Indonesia darurat kekerasan seksual masih terus berlanjut,” kata Sudarliadi selaku Koordinator Lapangan.[](ihn)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar