TERKINI
TAK BERKATEGORI

Kasus Kematian Munir Dianggap sebagai Pesan…

BANDA ACEH - Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra mengatakan, ada perlakuan mencolok antara kasus kematian aktivis HAM Minur Said Thalib dengan kasus Mirna Salihin yang…

ADI GONDRONG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 948×

BANDA ACEH – Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra mengatakan, ada perlakuan mencolok antara kasus kematian aktivis HAM Minur Said Thalib dengan kasus Mirna Salihin yang melibatkan Jessica Kumala Wongso. Namun kedua kasus ini menurutnya punya persamaan yaitu korban sama-sama tewas karena diracun.

Kasus kematian Mirna menurutnya mendapat perhatian sangat besar baik dari media maupun publik, sedangkan kasus Munir tidak.

“12 tahun Munir telah tiada, tapi pemerintah gagal mengungkap aktor utama pembunuhnya,” ucap Hendra dalam acara mengenang Munir, di kampus FISIP Unsyiah, Rabu, 7 September 2016, malam.

Hendra menjelaskan, kasus kematian Mirna yang diakibatkan sianida mendapat sorotan dari berbagai media. Sedangkan kasus Munir yang diracun arsenik malah tidak muncul lagi. Padahal, ia menganggap kasus Munir menyimpan sejuta misteri yang belum terungkap.

“Kasus HAM Munir ini seakan ditutupi, mungkin karena melibatkan aktor besar. Negara telah gagal menungkap apa yang terjadi di belakang layar,” kata Hendra.

Tepat 7 September 2016 Munir telah tiada selama 12 tahun. Namun, kata Hendra kasusnya mengendap. Hanya beberapa orang yang ditangkap, namun bebas lagi. Kasus Munir masih menyimpan pertanyaan tentang negara dan penegakan HAM di Indonesia.

Selama 12 tahun pula kata dia, para aktivis peduli HAM dan pengungkapan sejarah mengenang Munir. Meski ada yang mengatakan kematian Munir adalah pesan bahwa hukum mata pisau masih berlaku di republik ini.

“Saya khawatir kasus Munir ini semacam pesan bahwa yang di atas memang tak pernah tersentuh hukum. Kita masih menunggu negara mengusut kasus ini,” ucap Hendra.[](ihn)

ADI GONDRONG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar