BANDA ACEH Bank Indonesia (BI) membuat Kajian Perdagangan Antar-Wilayah di Provinsi Aceh terkait tiga komoditas unggulan, yaitu beras, bawang merah dan kedelai.
Hasil kajian itu turut memperkuat ungkapan sebagian pihak di Aceh selama ini: Aceh punya barang, Medan/Sumatera Utara punya nama. Misalnya, padi Aceh dijual ke Medan, setelah diolah menjadi beras dipasarkan kembali ke Aceh.
Hasil Kajian Perdagangan Antar-Wilayah di Provinsi Aceh itu dituangkan melalui box khusus dalam Laporan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Aceh Triwulan III 2015, yang diperoleh portalsatu.com dari laman resmi BI, Kamis, 26 November 2015.
Berikut penjelasan BI, dikutip dari box berjudul “Kajian Perdagangan Antar-Wilayah di Provinsi Aceh (komoditas beras, bawang merah, dan kedelai):
Kontraksi perekonomian Aceh pada tahun 2015 terutama disumbang defisit neraca perdagangan akibat impor antardaerah yang tinggi sementara ekspor menurun. Di sisi lain, kondisi alam di provinsi Aceh yang memiliki tanah subur dan lahan melimpah seharusnya memberikan Aceh keunggulan produksi di sektor pertanian.
Tiga komoditas pertanian unggulan di Provinsi Aceh meliputi: komoditas beras, bawang merah dan kedelai. Bahkan berdasarkan data Dinas Pertanian, Provinsi Aceh mengalami surplus produksi beras sebesar 1.140.072 ton pada tahun 2014. Namun demikian berdasarkan informasi anecdotal (informasi yang didasarkan pada pengamatan atau indikasi tindakan individu, red), banyak komoditas Provinsi Aceh yang dijual ke Provinsi Sumatera Utara (Sumut) untuk kemudian dipasarkan kembali ke Provinsi Aceh.
Situasi ini dapat menimbulkan beberapa permasalahan antara lain: Peningkatan harga akibat pola perdagangan yang kurang efisien dan kontraksi perekonomian akibat impor antardaerah yang tinggi. Untuk mengantisipasi kendala tersebut, diperlukan formulasi kebijakan yang kredibel, sehingga Bank Indoensia Provinsi Aceh menginisiasi dilakukannya Kajian Perdagangan Antar-Wilayah/Daerah.
Tujuan dari kajian ini antara lain: 1) Memetakan pola perdagangan komoditas pangan strategis antardaerah; 2) Melakukan estimasi biaya perdagangan dan margin keuntungan; 3) Mengetahui biaya transportasi dalam perdagangan antardaerah; 4) Mengetahui faktor yang mempengaruhi perbedaan harga relatif antar daerah; dan 5) Menyusun rekomendasi kebijakan perdagangan antardaerah.
Survei Perdagangan Antar-Wilayah Provinsi Aceh ini dilakukan terhadap 150 responden pedagang. Masing-masing 50 responden untuk pedagang beras, Bawang Merah dan Kedelai yang ada di Kota Banda Aceh, Lhokseumawe dan Meulaboh.
Mayoritas respoden (54,8%) memiliki omzet antara 1 miliar sampai 2,5 miliar. Sebanyak 77% responden memiliki tingkat pendidikan SMU. Sebanyak 48,1 % responden mendapatkan barangnya dari luar Provinsi Aceh dan mayoritas (95,56%) hanya menjual barangnya dalam provinsi.
Hasil dari survei yang dilakukan adalah didapatkan bahwa perdagangan komoditas pangan di Provinsi Aceh hampir seluruhnya dilakukan melalui jalur darat.
Sementara itu, besarnya aktivitas perekonomian Aceh yang dilakukan dengan kota Medan, maka lintas timur merupakan jalur yang paling aktif. Pada survei ini juga diperoleh bahwa Kota Lhokseumawe memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan dan pergudangan beberapa komoditas seperti beras, kedelai dan kopi karena posisinya yang berada pada pertengahan jalur lintas timur Banda Aceh-Medan.
Aliran perdagangan komoditas beras
Pedagang beras di Provinsi Aceh pada umumnya melakukan pembelian beras dari sentra produksi, khususnya dari penggilingan padi di Kabupaten Pidie dan Nagan Raya. Namun pengadaan stok beras terbesar berasal dari kota Medan.
Petani di daerah perbatasan Aceh-Medan yang lebih memilih untuk menjual hasil panennya kepada pedagang Medan dengan pertimbangan kemudahan akses (langsung mendatangi petani) dan harga yang kompetitif. Penjualan beras mayoritas lebih banyak dilakukan intra provinsi. Namun banyak pedagang di Aceh Barat dan Aceh Utara yang menjual beras ke pedagang grosir di Medan.
Aliran perdagangan komoditas bawang merah
Meskipun memiliki sentra bawang di Kabupaten Pidie dan Aceh Besar, namun mayoritas pedagang di Aceh mendapatkan stok bawang dari pedagang besar dan importir dan pedagang besar di Medan. Beberapa pedagang juga ada yang membeli bawang dari Brebes, Jawa Tengah.