Jabir ibn Hayyan, seperti ditulis oleh Syed Nomanul Haq, adalah figur enigmatik dalam sejarah ilmu pengetahuan. Ada pihak-pihak yang meragukan bahwa nama ini sungguh-sungguh merupakan tokoh sejarah. Namun, ada Ibn al-Nadim, penulis biografi Jabir, yang meyakini bahwa “Jabir sungguh ada.” Ia menulis itu dalam bukunya, Fihrist. Kasusnya pasti dan terkenal, komposisinya termasuk yang paling penting dan berlimpah.”
Jabir besar sebagai seorang alkemis, orang yang menggeluti alkimia. Di Arab dan Persia saat itu, alkimia menjadi pesona bagi kalangan literat. Ia adalah ilmu spekulatif yang utamanya bertujuan mencari cara mengubah tembaga menjadi logam mulia (perak dan emas). Alkimia juga terkait dengan cara mencari pengobatan, ilmu tentang hidup, astrologi, dan mistisisme (sufisme).
Ensiklopedia Britannica mencatat alkemis ini lahir pada tahun 721 di Tus, Persia (kini wilayah Iran) dan meninggal pada 815 Masehi di Kufa, Irak. Selain menjadi yang terkemuka di bidang alkimia, Jabir juga dikenal sebagai sufi. Beberapa sumber menyebutnya sebagai murid dari Imam Syiah ke-6, Imam Jafar al-Sadiq. Nama Jabir amat besar di masanya. Ada 3 ribuan karya yang memakai namanya, tapi menurut sejarawan Paul Kraus, tak mungkin karya-karya itu ditulis oleh Jabir ibn Hayyan seorang.
“[…] Kumpulan tulisan Jabirian mengindikasikan bahwa tulisan-tulisan itu terkait pada gerakan Ismailiyah pada Dinasti Fatimiyah; kebanyakan karya yang disebut atas nama Jabir kemungkinan ditulis pada abad ke-9 dan ke-10 [setelah Jabir wafat],” demikian catatan Willian R. Newman pada ensiklopedia Britannica.
Ada sumber yang menyebut Jabir adalah putra dari Hayyan al-Azdi. Sang ayah mendukung Abasiyyah di saat Dinasti Umayyah berkuasa. Ia berpindah dari dari negara ke negara lainnya hingga membuatnya sampai ke Tus, Khorasan dan di sanalah Jabir, putranya, dilahirkan. Hayyan dibunuh oleh Kekhalifahan Umayyah setelah diketahui bahwa ia pendukung Abasiyyah. Keluarga Jabir akhirnya melarikan diri dan kembali ke Yaman (Arab), di tempat itu pula Jabir dibesarkan.
Setelah kematian ayahnya, Jabir diantar ke Yaman untuk menuntut ilmu dengan Harbi al-Himyari. Di sana ia mempelajari Alquran, matematika, dan juga ilmu-ilmu lain. Selain itu, Jabir juga mendalami alkimia dengan Khalid bin Yazid, yang mengantarkannya menjadi seorang alkemis di istana Harun al-Rashid dan akhirnya berguru dengan Jafar al-Sadiq.
Karya-karya atas nama Jabir hingga kini masih tetap dipelihara dan tersimpan di berbagai perpustakaan nasional di beberapa negara seperti di Museum Britania Inggris misalnya, didapati sebuah manuskrip karya Jabir yang berjudul Al-Khawash al-Kabir. Di Perpustakaan Nasional Paris (Perancis) terdapat satu naskah karya Jabir dengan judul Al-Ahjar (batu-batuan).
Corpus Jabirianum