Tahun 2014 lalu, Ita melanjutkan studinya di Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh. Biaya pendidikan sejak sekolah dasar hingga sekarang dibiayai dari hasil dagangan Ita bersama ibu tercintanya.
KULITNYA terbilang putih, bentuk tubuhnya kecil dan mungil. Siang itu ia mengenakan celana berbahan kain katun warna hitam dan baju pink soft mendekati keunguan, dilengkapi kerudung bordir yang menutupi tubuhnya.
Ia mengembangkan senyum dan mempersilakan masuk saat portalsatu.com tiba ke kediamannya di Jalan Utama Lorong Hj. Halimah, Dusun Meunasah Tuha, Desa Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh.
Ita Purwita Sari, Amd, demikian nama lengkap sosok ini. Saban hari perempuan yang kerap disapa Ita ini memiliki usaha menjual aneka buah berupa jambu, mangga, salak dalam bentuk manisan serta serundeng bersama ibunya, Rokayah.
Jika kawasan Darussalam, ibunya sering disapa nenek penjual salak. Serundeng merupakan makanan ringan terbuat dari bahan dasar ketela atau sering disebut Ubi Rambat.
Perempuan kelahiran Banda Aceh, 5 September 1992 ini melakoni pekerjaan sebagai penjual buah-buahan yang serupa dengan ibunya di seputaran Banda Aceh. Meskipun kendati demikian, Ita baru saja menamatkan Diploma III di Politeknik Aceh pada 2013 lalu.
Alhamdulillah saya sekarang sudah lanjut lagi kuliah sarjana di Unmuha, karena di Politeknik kemarin itu cuma ambil D3, kata Ita sambil mengupas ketela saat berbincang dengan portalsatu.com siang tadi.
Tahun 2014 lalu, Ita melanjutkan studinya di Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh. Biaya pendidikan sejak sekolah dasar hingga sekarang dibiayai dari hasil dagangan Ita bersama ibu tercintanya.
Sementara ayah perempuan yang hoby membaca novel ini telah tiada sejak usia Ita masih berumur 10 hari. Anak pasangan almarhum Abdurrahman dengan Rokayah ini merupakan anak bungsu. Ia anak ke 12 dari duabelas bersaudara yang terdiri dari tiga perempuan dan sembilan laki-laki. Namun tiga abang laki-lakinya telah meninggal dunia sejak masih bayi dan kini tinggal sembilan yang masih hidup.
Saya anak terakhir, dan sekarang cuma tinggal berdua bersama ibu di rumah, tiga abang saya sudah meninggal, kalau abang dan kakak lainnya sekarang ada yang berada di Medan, Riau, Aceh Selatan, dan Lhokseumawe. Selebihnya di Banda Aceh dan Aceh Besar, kata Ita yang mulai memarutkan ketela.
Setiap hari, setelah mempersiapakan segala macam dirumah, Ita berjualan di lingkar kampus Kopelma Darussalam Banda Aceh dengan mengendarai sepeda motor Astera Prima. Sementara ibunya berjualan dengan mengayuh sepeda.
Kalau mamak jualan dari tadi pagi, saya di rumah mempersiapkan ini, tetapi kalau sudah selesai semua, setiap harinya Senin sampai Jumat juga jualan di daerah sekitaran Darussalam. Terkadang juga jualan di perkantoran seperti di Dinas Keuangan, Mahkamah Syariah, Badan Arsip, dan beberapa tempat lainnya, ujar mahasiswi yang akan menggarap skripsi ini. [] (mal)