TERKINI
HEALTH

Istigfar di Bulan Syakban Menggapai Magfirah

Bulan Syakban merupakan bulan untuk membersihkan diri kita dari segala dosa dan kesalahan sebelum menuju bulan Ramadhan. Pada bulan ini kita dianjurkan untuk memperbanyak istighfar…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 607×

Bulan Syakban merupakan bulan untuk membersihkan diri kita dari segala dosa dan kesalahan sebelum menuju bulan Ramadhan. Pada bulan ini kita dianjurkan untuk memperbanyak istighfar (istigfar). Dalam Islam, istigfar merupakan hal terbesar dan paling agung bagi seorang muslim yang penuh semangat untuk selalu sibuk dengannya pada masa-masa yang utama, di antaranya adalah Syakban dan malam Nishfu Syakban.

Istigfar adalah di antara sebab dimudahkannya rezeki yang keutamaannya ditunjukkan oleh banyak nash dari Alquran dan hadis-hadis penghulu para kekasih shallallahu alaihi wasallam.

Di dalamnya ada peleburan dosa, penyingkap susah, penghilang dan penolak duka. Hal itu karena banyaknya susah dan bertubi-tubinya duka disebabkan keburukan dosa dan selalu melakukan dosa. Maka sangat patut jika istigfar dan keseriusan bertaubat dan permohonan maaf menjadi obatnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menetapi istighfar maka Allah menjadikan untuknya kesenangan sebagai ganti kesedihan, jalan keluar sebagai ganti kesulitan dan Dia memberikannya rizki dari arah yang tidak disangkanya”.(HR Abu Dawud Nasai Ibnu Majah Hakim)

Sementara itu dalam sebuah hadis Qudsi juga menyebutkan kelebihan istigfar. Dari Anas r.a., ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu memohon dan berharap kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu atas segala yang pernah ada darimu dan Aku tidak akan mempedulikannya. Wahai anak Adam, andai dosa-dosamu membumbung tinggi mencapai langit kemudian kamu memohon ampunan kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak mempedulikannya. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan-kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu datang kepada-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan apapun niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi”.(HR Turmudzi)

Pada kesempatan lainnya, Rasulullah juga pernah bersabda, sebagaimana disebutkan Abu Said al-Khudri r.a. Beliau berkata: “Iblis berkata: “Demi keagungan-Mu, saya senantiasa akan menyesatkan para hamba-Mu selama nyawa masih ada di tubuh mereka”. Allah berfiman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku selalu mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan kepada-Ku.” (HR Hakim.)

Sementara itu dari Abdullah bin Busr r.a., ia berkata: “Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh sangat beruntung orang yang ditemukan banyak istighfar dalam catatan amalnya”.(HR Ibnu Majah dengan Sanad Shahih)

Anjuran memperbanyak istigfar juga disebutkan dari Zuber r.a., sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang ingin bergembira dengan catatan amalnya maka hendaklah ia memperbanyak istighfar di dalamnya”.(HR Baihaqi)

Memperkuat hadis di atas juga disebutkan dari Ummi Ishmah al Aushiyyah r.a. Ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada seorang muslim yang melakukan dosa kecuali malaikat berhenti tiga saat (jam); bila ia memohon ampunan dari dosanya maka malaikat itu tidak mencatatnya dan Allah tiada akan menyiksanya di hari kiamat”.(HR Hakim)

Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan kesalahan maka kesalahan itu menorehkan sebuah noktah dalam hatinya. Jika ia meninggalkan (dari dosa) dan memohon ampunan maka noktah itu kembali menjadi cerah. Lalu jika ia mengulangi maka noktah itu ditambah sehingga menutup hatinya. Dan itulah karat seperti disebutkan Allah dalam firman-Nya, “Tidaklah demikian, tetapi apa yang mereka lakukan telah membuat hati-hati mereka berkarat”. Q.S. al-Muthaffifin: 14”.(HR Turmudzi Nasa’i Ibnu Majah Ibnu Hibban Hakim)

Dari Bilal bin Yasar bin Zaid r.a., ia berkata: “Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku yang mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa mengucapkan: “Saya memohon ampunan kepada Allah Dzat yang tiada Tuhan selain-Nya yang Maha Hidup Maha Mengurus. Dan aku bertaubat kepada-Nya. Maka diampuni baginya meski ia telah melarikan diri dari barisan perang”.(HR Abu Dawud Turmudzi)

Penjelasan lainnya juga disebutkan dalam Alquran, Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya, Nuh alaihissalam:“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Diaadalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS Nuh: 10 -12).[]

Sumber: dinulislamnews.com

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar