BANDA ACEH – Di alam demokrasi sekarang ini siapa saja bisa menjadi pemimpin. Siapa pun berhak untuk dipilih dan memilih. Kesempatan menjadi pemimpin tidak terbatas pada kaum laki-laki saja. Jika saat ini masih lebih banyak pemimpin yang laki-laki, bukan karena ada diskriminasi terhadap perempuan, namun perempuan juga harus melakukan introspeksi dan upaya-upaya untuk mendorong peningkatan kapasitasnya.

Demikian disampaikan Wakil Ketua DPR Aceh, Teuku Irwan Djohan ST saat menjadi narasumber pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi Perempuan bertema “Meningkatkan Kualitas Perempuan dalam Pengambilan Keputusan”, yang diselenggarakan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Aceh bekerja sama dengan Garda Wanita (Garnita) Malahayati Aceh, di Ballroom Grand Aceh Hotel Banda Aceh, Senin, 16 November 2015.

“Di negara ini tidak ada batasan bagi perempuan untuk tampil menjadi pemimpin di segala tingkatan. Berbagai upaya juga terus dilakukan secara khusus untuk meningkatkan kapasitas perempuan. Khusus untuk menjadi anggota legislatif, pemerintah justru memberikan ruang yang luas kepada perempuan dengan kuota minimal 30 persen. Tapi kalau perempuan ingin setara dan tidak mengalami diskriminasi, kaum perempuan seharusnya menolak aturan-aturan khusus yang seakan-akan menganggap perempuan itu lemah,” ujar Irwan Djohan, dikutip dari siaran pers diterima portalsatu.com.

Kepada puluhan perempuan peserta pelatihan, Irwan juga menyarankan untuk meningkatkan kapasitas pribadi dengan lebih banyak membaca buku dan berita. “Jangan menghabiskan waktu menonton sinetron dan gosip infotainment di televisi, tapi perbanyak membaca buku, koran atau menonton berita, karena seorang pemimpin harus selalu update informasi sehingga paham situasi dan mampu menentukan sikap dan kebijakan.”

Menjawab pertanyaan peserta pelatihan tentang banyaknya organisasi yang mengalami perselisihan antar-pengurus, Irwan Djohan mengatakan, “Pemimpin tidak boleh terganggu oleh satu dua orang anggota organisasi yang berperilaku negatif dan kerap bikin masalah dalam organisasi. Tugas pemimpin memang mengayomi dan mengakomodir harapan anggota, jadi mendengarkan anggota itu penting. Tapi kalau sudah didengar dan diarahkan masih tetap buat masalah, maka tinggalkan saja dulu mereka, fokuskan saja melayani kepentingan anggota organisasi yang masih berpikiran positif yang jumlahnya lebih banyak,” sebutnya.

“Menjadi pemimpin yang baik di dalam sebuah organisasi, harus punya 'jam terbang' yang cukup agar mampu mengendalikan berbagai situasi dan kondisi. Tidak selamanya perjalanan organisasi itu mulus, pastilah ada saat-saat kondisi yang kurang kondusif. Jika pemimpin organisasi minim jam terbang, maka akan sulit menghadapi gejolak. 'Jam terbang' bisa ditingkatkan dengan memperbanyak keterlibatan di berbagai organisasi dan mengikuti berbagai pelatihan untuk menambah wawasan,” kata Irwan.

Terkait kondisi Aceh yang masih banyak masalah, terutama tingginya kasus korupsi, Irwan mengarahkan peserta pelatihan untuk mulai memperbaiki diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari. “Kita berteriak dan menghujat setiap ada kasus korupsi, tapi banyak di antara kita yang masih biasa melakukan aneka pelanggaran. Misalnya, menyogok untuk memperoleh pekerjaan, mencuri listrik, tidak mematuhi peraturan, menghindar dari pajak, dan banyak juga pelajar yang masih menyontek saat ujian. Semua itu cikal bakal perilaku korup, yaitu mementingkan diri sendiri dengan segala cara, tanpa peduli hak masyarakat umum atau orang lain,” pungkas Ketua DPD Partai NasDem Kota Banda Aceh tersebut. []