SINGKIL- Horsea Baancin, 42 tahun, saksi mata kerusuhan yang mengakibatkan salah satu rumah ibadah di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, dibakar massa, Selasa, 13 Oktober 2015.
Sebelumnya kami sudah mendapat informasi bahwa akan ada aksi massa ke gereja. Pada saat sebelum kejadian itu kami berdiri sekitar 10 orang bersama pendeta di depan pintu gereja, setelah itu kami dapat informasi orang itu sudah menuju ke gereja dan mereka terlihat ada yang membawa bambu runcing dan parang. Lebih kurang massa yang datang ada 500 orang, kata Horsea saat diwawancarai portalsatu.com di TKP, Jumat, 16 Oktober 2015.
Horsea menyebut massa tersebut semuanya mengunakan penutup wajah, dan dari kejauhan mereka bersorak-sorak.
Mereka semuanya tutup muka, jadi kita nggak ada yang kenal. Kemudian mereka masuk dalam kawasan gereja dan mereka langsung melempar lebih kurang lima bom molotov ke arah gereja. Terus saat itu polisi menyuruh kami untuk menyelamatkan diri, tapi pendeta kami masih berdiri di depan pintu gereja, kata Horsea.
Saat kejadian itu, kata dia, aparat keamanan tidak sanggup meredam emosi massa yang menyiram bahan bakar minyak dan dan membakar rumah ibadah itu.
Ya mereka membakar secara langsung, kami melihatnya kami sangat sedih. Ada juga ibu-ibu yang menangis, sempat juga ada dua anak yang pingsan saat melihat kobaran api membesar di gereja, katanya.
Menurut Horsea, sekitar 15 menit setelah rumah ibadah itu terbakar baru tiba mobil pemadam kebakaran, namun saat itu tidak diizinkan oleh massa untuk memasuki lokasi kejadian.
Ya, mudah- mudahan dengan kejadian ini pemerintah untuk segera memahami kondisi kami. Pada dasarnya di sini kehidupan sangat rukun antara umat Islam dan Kristen, ini kejadiannya kan orang luar yang masuk membuat kericuhan, kata Horsea. [] (mal)