Dia menyebutkan banyak nisan dalam kondisi memprihatinkan.
SIGLI – Komunitas pakaiaan adat Aceh bersama Masyarakat Peduli Sejarah Aceh menata makam bersejarah di Gampong Meunasah Keutambeu, Kecamatan Grong-Grong, Kabupaten Pidie, Minggu, 29 November 2015.
“Meuseuraya atau gotong royong tersebut berlangsung dari pukul 10.00 WIB sampai menjelang azan zuhur,” ujar Koordinator Kegiatan Meuseuraya Mapesa, Muhajir Osama, kepada portalsatu.com, Minggu malam.
Dia menyebutkan banyak nisan dalam kondisi memprihatinkan. Dari tiga makam, ada dua makan yang nisannya telah patah dan hilang.
“Satu makam lagi kondisinya masih lengkap dan utuh,” ujar pria yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komunitas Pakaian Adat Aceh.
Sementara itu, Kepala Tim Ekspedisi Mapesa, Afrizal Hidayat, mengatakan beberapa tahun lalu Tim Cisah yang dipimpin oleh Epigraf Taqiyuddin Muhammad telah melakukan pengamatan awal pada kompleks makam ini.
Satu makam masih utuh dengan kaligrafi indah yang terpahat pada nisannya diketahui milik seorang ulama dari Madinah. Berdasarkan enskripsi terukir nama Syaikh Abdurrahim bin Shalih Al-Madaniy yang wafat dalam abad 16 Masehi di nisan tersebut.
Ia mengatakan belum diketahui secara pasti sebab syaikh ini berhijrah ke Aceh. Namun dia berharap agar pemerintah segera mendaftarkan makam bersejarah ini sebagai situs cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang serta melakukan penelitian secara mendalam.
“Keberadaan makam ini menujukkan bahwa hubungan Aceh dan Madinah telah terjalin sejak 5 abad silam. Maka dengan ini kita berharap agar masyarakat setempat dan pemerintah memeliharanya serta manjadikan kompleks makam ini sebagai salah satu lokasi yang wajib diziarahi di Kabupaten Sigli agar generasi mengetahui sejarah negerinya sendiri,” kata Afrizal Hidayat.[]