BANDA ACEH – Melalui program Non Violent Study Circle (NVSC) yang didukung Inspiring Development (Indev) Ambon mengadakan training perdamaian (Gen Peace) di Aula FISIP Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, sejak 20 hingga 24 Oktober 2015.
Peserta kegiatan yang bertema Promoting Peace for Campus to Community ini dari berbagai universitas dan lintas komunitas di seluruh Indonesia.
Awalnya ada tahap penyeleksian dari 120 orang diseleksi lolos 30 peserta untuk mengikuti training ini. Sementara 10 lainnya adalah undangan dari seluruh Aceh dengan menggabungkan beberapa komunitas, baik dari berbagai kampus, suku, dan komunitas secara regional, kata Rezka Kenara, PO perwakilan The Leader.
Sebelumnya, kegiatan ini diadakan di tujuh kota besar, yaitu Ambon, Kupang, Manokwari, Poso, Ternate, Makassar, dan Aceh. Di Aceh sendiri, pihaknya memiliki local partner, yaitu The Leader, komunitas kepemudaan di Aceh.
Setelah ini nanti ada lagi di Mamuju pada 27 Oktober 2015 mendatang, kata Alda Assagaf, tim Gen Peace dari Ambon saat ditemui portalsatu.com di Aula FISIP siang tadi.
Kegiatan tersebut dikonsepkan dengan workshop, sharing dan networking, yaitu melakukan pelatihan dengan berbagi dan menjalin hubungan membangun jaringan.
Disini kami berbagi apa yang sudah pernah dibuat lalu sharing, dan sama-sama belajar serta membangun networking, juga ada support nya yaitu The Leader dan besok juga ada kunjungan ke media Oz Radio, dan ke Meseum Perdamaian Kesbangpol Aceh, kata Alda.
Harapannya ke depan, hasil dari kegiatan ini melakukan aksi, baik kelompok maupun individu untuk menindaklanjuti atau follow up rencana dengan aksi yang besar.
Selama acara ini berlangsung, sistemnya bukan hanya workshop melainkan saling berbagi pengalaman, membuat simulasi dan role play dengan mengangkat isu-isu yang sedang marak terjadi di lingkungan sekitar. Kami selalu men-support dan ingin melahirkan tonggak-tonggak perdamaian dari kampus ke komunitas, ujar Alda.
Kegiatan ini juga menghadirkan pemateri-pemateri dari tokoh perdamaian Aceh seperti Sadia Marhaban, satu-satunya tokoh perdamaian perempuan yang hadir saat MOU Helsinki yang memberi materi tentang mediasi, Radi Darmansyah materi tentang media, Indar dengan materi Volunterism dan Leadership, serta Munzir tentang transformasi konflik.[]