Museum ini tidaklah nyata. Benda- benda di sini bukan milik orang-orang seperti yang terpahat dalam prasasti-prasasti; rumahnya sama sekali tidak memiliki klaim sejarah; bahkan pengantar audio meyakinkan para pengunjung museum bahwa sang kurator bekerja dengan karakter imajiner dan dunia fiksi.
Setidaknya, begitulah yang saya pikirkan. Tetapi sekarang, saat saya berdiri di ruang atas museum menatap tempat tidur sederhana tempat tokoh novel protagonis, Kemal, dikatakan tidur pertama kali dengan Füsun, tokoh yang merupakan obsesinya; yang tertulis dalam sebuah prasasti bahwa Kemal meninggal dunia di sini pada 12 April 2007; dan di mana halaman-halaman yang dipamerkan dari catatan sang penulis yang digambarkan sebagai catatan-catatan dari wawancara-wawancara yang dia lakukan dengan Kemal saya tidak begitu yakin.
Mungkin itu bukanlah sebuah novel sama sekali. Barangkali sosok Kemal memang benar-benar ada. Mungkin saya melewatkan sesuatu.
Museum of Innocence bisa jadi merupakan proyek kreatif paling berani dari penulis Turki yang paling berani dalam kehidupannya. Dianugerahi gelar sebagai European Museum of the Year pada Mei 2014, Museum of Innocence adalah sebuah museum, yang berdasarkan pada sebuah novel, berdasarkan pada sebuah museum.
Semua berbagi nama yang sama. Dan semua berbaur dengan kehidupan dan budaya Istanbul pada paruh kedua abad ke 20.
Pada pertengahan tahun 1990-an, bahkan sebelum Orhan Pamuk, sang pencipta, penulis dan kurator konsep itu, menerima Hadiah Nobel Sastra untuk novel-novelnya, termasuk novel My Name Is Red pada tahun 1998 danSnow pada tahun 2002, dia memulai sebuah proyek rahasia.
Dia mengumpulkan barang-barang, semacam barang-barang yang sudah tidak terpakai yang menandai Istanbul pada paruh kedua abad ke 20: tempat garam, foto-foto tua, sebuah pengupas buah. Tetapi dia menyatukannya lebih dari sebuah koleksi.
Saya ingin mengumpulkan dan memamerkan benda-benda nyata dari sebuah cerita fiksi dari sebuah museum dan menulis sebuah novel yang berdasarkan barang-barang itu,” tulis Pamuk diThe Innocence of Objects, buku petunjuk museum.
Saat ini, saya tidak mengetahui seperti apa jadinya museum itu nanti, dan saya juga tidak tahu seperti apa novelnya. Tetapi saya merasa bahwa memfokuskan diri pada barang-barang dan mengisahkan cerita lewat mereka akan membuat tokoh protagonis saya berbeda dari tokoh-tokoh di novel-novel Barat lebih nyata, lebih berdasarkan pada Istanbul.
Jika saya merasa bingung ketika berada di ruangan atas museum, ini adalah salah satu indikasi bahwa Pamuk telah berhasil.
Pamuk mulai mengumpulkan barang-barang itu secara serius pada pertengahan tahun 1990-an, sambil mengumpulkan, dia juga mulai menulis novel yang berhubungan dengan obyek-obyek dari tokoh-tokoh protagonis.
Di saat yang sama, dia mengimpikan untuk membuat museum sebagai tempat memamerkan barang-barang yang sama, meskipun, awalnya, dia mengakui kedengarannya seolah-olah dia telah kehilangan alur: Awalnya, ketika orang-orang bertanya apa yang akan saya lakukan dengan barang-barang yang saya kumpulkan, saya tidak dapat menjawabnya. Saya akan membangun sebuah museum, dan katalognya akan berupa sebuah novel tampak terlalu ambisius sebagai jawaban, tulisnya. Keanehannya, keganjilannya dan kesulitann mewujudkannya menakutkan saya.
Tetapi, tentu saja, dia akhirnya mewujudkan tujuannya. Diterbitkan pada tahun 2009, The Museum of Innocence adalah novel pertama Pamuk setelah menerima hadiah Nobel di tahun 2006. Sebuah cerita tragis dari ketidaksetaraan gender dan klas sosial, novel ini menceritakan obsesi seorang protagonis, Kemal, terhadap seorang perempuan muda yang bernama Füsun sebuah obsesi yang membuatnya mengumpulkan setiap barang yang mungkin berhubungan dengan perempuan itu. Dan museum itu dibuka untuk umum empat tahun kemudian, pada tahun 2012.
Dalam sebuah trik rapi yang dimainkan di akhir novel, Kemal menggunakan barang-barang itu untuk membentuk inti dari sebuah museum kehidupan nyata, dan menyewa seorang kenalan lama, sang penulis Orhan Pamuk, untuk menuliskan ceritanya. Dan dalam trik yang lebih rapi lagi dan alasan, di luar keahlian kreatifnya, bahwa museum itu telah menerima semacam pengakuan dari suatu komunitas akademis barang-barang milik Füsun dan Kemal menyajikan semacam sepotong penggambaran kehidupan yang jarang terjadi di Turki pada abad ke 20.
Saat saya mengamati museum itu, rumah kayu berwarna merah darah bergaya Ottoman di sebuah jalan belakang yang terletak di perbukitan Beyo?lu di daerah Çukurcuma, saya mencatat dengan muram bahwa saya benar-benar cocok dengan deskripsi dalam novel terhadap pengunjung museum biasa; perempuan-perempuan lajang yang berakhir di museum setelah tersesat di jalan. Ketika saya akhirnya sampai, saya mengagumi sebentar. Saya mengetahui bahwa rumah itu tidak benar-benar rumah keluarga Füsun, seperti yang diceritakan dalam buku. Tetapi tampak persis seperti yang saya bayangkan.
Di jendela tiket, saya disodori novel yang sering dibolak-balik seorang perempuan yang duduk di hadapan saya, lalu membuka halaman yang membicarakan masa depan museum, Kemal yang memutuskan bahwa tiket itu seharusnya dicetak di dalam buku itu. Dia tersenyum dan mencap halaman yang berbentuk kupu-kupu; mengangguk pada kedua bab pertama novel, saat Füsun kehilangan anting-anting berbentuk kupu-kupu, yang merupakan benda pertama koleksinya.
