BANDA ACEH – Namanya Salawatina, gadis remaja usia 16 tahun dari keluarga miskin di Gampoeng Raya Paya, Simpang Tiga, Kabupaten Pidie. Sebagaimana gadis seusianya, Salawatina memiliki impian dapat menikmati pendidikan setinggi-tingginya sebagai bekal sukses dan mengubah kondisi keluarga di masa depan. 
Tekat kuat dan semangat tinggi adalah modal utama Salawatina.

Tidak ada kata menyerah bagi Salawatina, walaupun kondisi ekonomi keluarga terkadang mengganggu impian masa depannya. Salawatina terus maju dan tak penah ragu. Mungkin Salawatina percaya bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi satu kaum, apabila kaum itu sendiri tidak berusaha untuk mengubah nasibnya.

Anak dari keluarga petani miskin ini, sejak SMP hingga kelas 2 SMA saban hari harus menempuh jarak lebih 5 km dengan berjalan kaki agar bisa sampai di sekolahnya di Lampoh Saka.

Seringkali Salawatina berkhayal memiliki sepeda yang dapat mengantarnya ke sekolah tiap hari. Namun khayalannya sering buyar saat mengingat kondisi keluarga. Tentu orang tuanya tidak akan mampu mewujudkan itu.

Hingga Rabu siang, 3 Agustus 2016, tiba-tiba Salawatina dijemput keluarganya dari sekolah karena ada tamu yang datang ke rumahnya. Tamu yang jauh dari kata layak.

Setiba di depan rumah, Salawatina terkejut mendapati rumahnya sesak dipenuhi oleh banyak orang yang sebagian besar adalah warga kampungnya. Begitu melangkah masuk ke rumah, Salawatina seakan tidak percaya mendapati tamu yang mengunjunginya adalah orang yang sering dilihatnya di film Aceh, yang sangat digandrungi mayoritas masyarakat Aceh.

Dia adalah Haji Uma. Iya, Haji Uma! Ayahnya Yusniar di Film Eumpang Breuh yang sekarang juga merupakan anggota DPD RI asal Aceh. Terkejutnya lagi, ternyata Haji Uma datang membawa sepeda berwarna merah. Sepeda yang selama ini diimpikan Salawatina.

Dengan rasa haru, bahagia serta setengah tidak percaya, Salawatina diminta untuk mencoba sepeda yang akan menjadi miliknya dan siap mengantarkannya setiap hari ke sekolah.

Mulai besok, Salawatina tidak harus berjalan kaki lagi ke sekolah. Tidak ada lagi cerita pakaian sekolah basah karena keringat sesampai di rumah lantaran harus berjalan kaki dari sekolah ke rumah dan sebaliknya.

Akhirnya, sepeda impian Salawatina menjadi nyata. Allah mendengar doa dan mewujudkan mimpi dan harapan Salawatina melalui Haji Uma.[](bna)