BANDA ACEH – Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah, meminta agar PT Waskita Karya selaku pelaksana dan PT Lavita Inti sebagai pengawas proyek pembangunan jembatan Lamnyong untuk bekerja maksimal dengan memperhatikan aspek kualitas, lingkungan, dan ketepatan waktu.

Hal tersebut disampaikan oleh pria yang akrab disapa Doto Zaini itu dalam sambutan singkatnya saat meresmikan dimulainya proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan Kota Banda Aceh dengan Darussalam, Senin, 30 November 2015.

“Saya berharap proyek pembangunan jembatan Lamnyong dapat selesai paling lama 450 hari sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Bina Marga tadi. Dengan berfungsinya jembatan ini, kita berharap aktivitas pendidikan dan geliat ekonomi masyarakat di wilayah ini bisa meningkat,” ujarnya.

Peresmian tanda dimulainya proyek (Ground Breaking) jembatan Lamnyong, yang merupakan salah satu jembatan paling strategis di Banda Aceh itu turut dihadiri oleh perwakilan unsur Forkorpimda Aceh, Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda, sejumlah Kepala SKPA, dan Wali Kota Banda Aceh.

“Seiring dengan rasa syukur tersebut, saya pun meminta kepada seluruh rakyat Aceh, khususnya di Kota Banda Aceh, berkenan mendukung kesuksesan pembangunan dan perluasan jembatan ini sehingga masyarakat lebih nyaman melintas di kawasan ini tanpa ada gangguan macet seperti yang terjadi selama ini,” ujar Doto Zaini.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan proyek tersebut.

“Terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Dinas Bina Marga Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan berbagai pihak lainnya. Semoga proyek ini selesai sesuai waktu yang ditargetkan sehingga pelayanan publik di kota ini menjadi semakin baik,” kata Gubernur.

Doto Zaini mengatakan selama ini masyarakat banyak mengeluhkan ruas jembatan Lamnyong yang tidak memadai. Gubernur mengakui telah lama mendengar keluhan tersebut.

“Saya telah mendengar keluhan ini sejak saya mendapat mandat sebagai Kepala Pemerintah Aceh sekitar tiga tahun lalu. Karenanya, pada tahun pertama memimpin Aceh, saya telah meminta agar pembangunan jembatan ini harus menjadi salah satu prioritas di masa kepemimpinan saya,” ujarnya.

Gubernur mengatakan pembangunan jembatan Lamnyong merupakan bagian dari program infrastruktur Pemerintah Aceh dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Awalnya Gubernur mengupayakan agar anggaran pembangunan jembatan menggunakan dana APBN.

“Pada awalnya, jembatan ini juga merupakan proyek nasional. Bahkan ketika diresmikan tahun 1991, Presiden yang datang langsung ke sini untuk meresmikannya.Ini menandakan bahwa jembatan ini memang sangat strategis bagi masyarakat Aceh,” kata Gubernur.

“Namun karena keterbatasan dana, APBN akhirnya hanya mengalokasikan pembangunan beberapa jembatan saja di Aceh. Untuk jembatan Lamnyong, kita alokasikan dari APBA tahun 2015.”

Gubernur mengatakan jembatan Lamnyong merupakan prioritas Pemerintah Aceh, karena keberadaan jembatan ini bukan hanya berfungsi untuk mendukung gerak ekonomi, sosial dan budaya masyarakat di wilayah itu. Namun, jembatan ini merupakan akses utama bagi masyarakat yang ingin menuju ke pusat pendidikan yang dikenal sebagai ‘Jantông Haté’ rakyat Aceh, yaitu Unsyiah dan UIN Ar-Raniry.

“Jika proyek ini selesai, Insya Allah kita tidak akan melihat lagi kemacetan di pagi dan sore hari di jembatan ini, karena akan ada dua jembatan yang bisa digunakan, yaitu jembatan lama yang lebarnya sekitar 6 meter dan jembatan baru dengan lebar 8,75 meter. Keduanya memiliki panjang sekitar 300 meter.”

Untuk diketahui bersama, saat ini Dinas Bina Marga Aceh, tidak hanya mengerjakan jembatan Lamnyong semata, sejumlah proyek infrastruktur juga terus dipacu pengerjaannya.

Saat ini ada puluhan jembatan lain yang juga menjadi prioritas Pemerintah Aceh, baik itu di kawasan pantai barat, wilayah tengah, maupun di kawasan pantai timur.[] (*sar)