BANDA ACEH – Rumah T Hamzah Bendahara ini terletak di pusat kota Kecamatan Samalanga, tepatnya di Gampong Keude Aceh, Kecamatan Samalanga Kab. Bireuen. Rumah ini tampak tidak ada perawatan.

Seorang penduduk Samalanga, Mirza Putra, kepada portalsatu.com, mengatakan, orang-orang di tempatnya menyebut T Hamzah Bendahara sebagai Panglima Hamzah dan di Samalanga masih ada keluarganya. 

“Rumah Aceh ini dulunya berasal dari Lamlo, ada dua, kemudian Mayjend T. Hamzah Bendahara memindahkan kedua rumah tersebut ke Samalanga untuk dirawat serta dijadikan situs rumah adat yang perlu dilestarikan,” kata Mirza.

Kemudian, kata dia, Presiden Soeharto pada saat itu menginstruksikan dibuat rumah adat setiap provinsi di Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ), oleh Mayjend T. Hamzah Bendahara memindahkan salah satu rumah Aceh tersebut ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Namun sayangnya pasca tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004 lalu, rumah Aceh situs kebanggaan masyarakat Samalanga tersebut telah rusak parah akibat tidak terurus. Bahkan sampai saat ini belum ada upaya apapun yang dilakukan oleh pemerintah,” kata Mirza, di Samalanga, Rabu 24 Mei 2017.

Mirza mengaku, seperti itulah cerita yang didengarnya. Namun, untuk memastikan bagaimana sejarah rumah tersebut, ia bersama Zam Rony Muhammad Thaib (perekam foto yang dapat di lihat di atas berita ini) ingin menusurinya lewat pertemuan bulan Juli 2017 ini.

“Kita akan undang tokoh nantinya untuk membahas tentang rumah itu,” kata Mirza.

Tentang rumah itu pula, seorang aktivis kebudayaan di Mapesa dan Pedir Museum, Masykur Syafruddin, mengatakan, rumah Aceh yang berada di Museum Aceh serupa dengan sebuah rumah di Samalanga tersebut 90 persen. Masykur memperlihatkan foto rumoh Aceh di Samalanga tersebut, yang menurutnya, bukan milik T Hamzah Bendahara.

“Tipe rumah Aceh seperti itu, khususnya tangga, ornamen dalam, sejauh penelusuran, tidak ada di Pidie, saya memperkirakan itu asli khas Samalanga, atau kalau itu disebut dari Pidie, tahun berapa dipindahkan. Saat saya ke rumah itu pada 2014 dan beberapa kali setelahnya, tidak ada yang tahu itu rumah siapa, jadi darimana sumber bahwasanya itu rumah T Hamzah Bendahara,” kata Masykur, yang juga peneliti dan kolektor benda bersejarah.

Untuk memastikan kebenaran tentang rumah Aceh tersebut, seminar yang direncanakan pada Juli 2017 mudah-mudahan akan memberikan titik terang.[]