Pencarian makna diri dan kehidupan secara umum dan lengkap telah dilakukan oleh banyak orang di segala zaman, yang berangkat dari segala keyakinan. Di antara para pencari itu, ada beberapa orang yang berhasil mencapai puncaknya sehingga mereka menemukan pencerahan tertinggi, terhubung dengan makro kosmos, alam semesta, tepatnya sang pencipta alam semesta. Orang-orang ini disebut filsuf pada tingkatan yang tinggi, sang filsuf sejati.
Di dalam dunia Islam terdapat paling banyak nama jenis orang terhormat ini. Ada Al Ghazali, Al Farabi, Ibnu Sina, Al Kindi, Jalaluddin Rumi, Ibrahim bin Adham, dan banyak lagi. Pada keyakinan yang lain, kita menemukan Mahatma K Ghandi, Budha, Konfusius, dan lainnya.
Di dalam ritual budaya bangsa-bangsa di dunia, ada sebagian dari ahli sebuah ritual seperti Konfusius dari Cina, Yoga dari India, Ninjutsu atau Samurai dari Jepang, mampu mencapai tingkatan tertinggi. Orang-orang ini mampu menguasai perasaannya, misalnya tidak akan marah lagi walaupun dimaki, dipukul, dan atau diludahi di depan umum.
Di Asia Tenggara, pada zaman pertengahan, kita menemukan Hamzah Fansuri, yang merupakan sang filsuf yang sufi. Selain Fansuri, ada beberapa nama lain, baik yang berasal dari Aceh atau Sumatra mahupun dari pulau lain, termasuk semenanjung. Namun, Hamzah Fansuri adalah orang yang terdepan di antara mereka.
Di masa silam, kita menemukan Socretes, Aristoteles, dan lainya. Di zaman kebangitan teknologi kita menemukan Roger Garaudi, dan lainnya.
Walaupun filsuf merupakan menusia dengan kadar pemikiran paling tercerahkan, menurut Al Ghazali di dalam Thahafut Al Falasifat (Kesesatan Para Filsuf), menyebutkan bahwa akhir dari setiap filsafat adalah kebingungan. Al Ghazali, dalam karyanya yang dipertentangkan tersebut, menyebutkan bahwa tingkatan tertinggi manusia itu adalah para ahli tasauf, sang sufi. Menurut pendapat Al Ghazali, para sufi adalah manusia pilihan. Dan Al Ghazali sendiri adalah seorang filsuf yang sufi.
Namun, menurut penulis sendiri, akhir setiap filsafat bukanlah kebingungan sebagaimana disebutkan Al Ghazali, akan tetapi itu adalah pertengahan awalnya. Tetapnya, awal dari setiap filsafat adalah penasaran, perjalanannya itu membingungkan, dan berakhir dengan keyakinan. Itulah filsuf sejati, yang disebut oleh Al Ghazali sebagai sang sufi.
Maka, apabila ada orang yang hidupnya dalam kebingungan sementara dirinya selalu mencari kebenaran, niscaya orang itu berada pada tahap pertengahan, masih dalam perjalanan. Namun, dunia filsafat terkadang berbahaya bagi orang yang tidak kuat pikirannya dan terlalu cepat berhenti mencari.