TERKINI
PROFIL

Filsafat Kehidupan: Mencari Makna Diri dan Alam

Pencarian makna diri dan kehidupan secara umum dan lengkap telah dilakukan oleh banyak orang di segala zaman, yang berangkat dari segala keyakinan. Di antara para…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 4.5K×

Pencarian makna diri dan kehidupan secara umum dan lengkap telah dilakukan oleh banyak orang di segala zaman, yang berangkat dari segala keyakinan. Di antara para pencari itu, ada beberapa orang yang berhasil mencapai puncaknya sehingga mereka menemukan pencerahan tertinggi, terhubung dengan makro kosmos, alam semesta, tepatnya sang pencipta alam semesta. Orang-orang ini disebut filsuf pada tingkatan yang tinggi, sang filsuf sejati.

Di dalam dunia Islam terdapat paling banyak nama jenis orang terhormat ini. Ada Al Ghazali, Al Farabi, Ibnu Sina, Al Kindi, Jalaluddin Rumi, Ibrahim bin Adham, dan banyak lagi. Pada keyakinan yang lain, kita menemukan Mahatma K Ghandi, Budha, Konfusius, dan lainnya.

Di dalam ritual budaya bangsa-bangsa di dunia, ada sebagian dari ahli sebuah ritual seperti Konfusius dari Cina, Yoga dari India, Ninjutsu atau Samurai dari Jepang, mampu mencapai tingkatan tertinggi. Orang-orang ini mampu menguasai perasaannya, misalnya tidak akan marah lagi walaupun dimaki, dipukul, dan atau diludahi di depan umum.

Di Asia Tenggara, pada zaman pertengahan, kita menemukan Hamzah Fansuri, yang merupakan sang filsuf yang sufi. Selain Fansuri, ada beberapa nama lain, baik yang berasal dari Aceh atau Sumatra mahupun dari pulau lain, termasuk semenanjung. Namun, Hamzah Fansuri adalah orang yang terdepan di antara mereka.

Di masa silam, kita menemukan Socretes, Aristoteles, dan lainya. Di zaman kebangitan teknologi kita menemukan Roger Garaudi, dan lainnya.

Walaupun filsuf merupakan menusia dengan kadar pemikiran paling tercerahkan, menurut Al Ghazali di dalam Thahafut Al Falasifat (Kesesatan Para Filsuf), menyebutkan bahwa akhir dari setiap filsafat adalah kebingungan. Al Ghazali, dalam karyanya yang dipertentangkan tersebut, menyebutkan bahwa tingkatan tertinggi manusia itu adalah para ahli tasauf, sang sufi. Menurut pendapat Al Ghazali, para sufi adalah manusia pilihan. Dan Al Ghazali sendiri adalah seorang filsuf yang sufi.

Namun, menurut penulis sendiri, akhir setiap filsafat bukanlah kebingungan sebagaimana disebutkan Al Ghazali, akan tetapi itu adalah pertengahan awalnya. Tetapnya, awal dari setiap filsafat adalah penasaran, perjalanannya itu membingungkan, dan berakhir dengan keyakinan. Itulah filsuf sejati, yang disebut oleh Al Ghazali sebagai sang sufi.

Maka, apabila ada orang yang hidupnya dalam kebingungan sementara dirinya selalu mencari kebenaran, niscaya orang itu berada pada tahap pertengahan, masih dalam perjalanan. Namun, dunia filsafat terkadang berbahaya bagi orang yang tidak kuat pikirannya dan terlalu cepat berhenti mencari.

Para pencari kebenaran, di tengah perjalanannya sering terjebak dalam kebingungan tingkat tinggi, ia tidak bisa menemukan kebenaran yang dicarinya karena mengandalkan pikiran sadar semata-sementara manusia memiliki pikiran dasar dan bawah sadar-. Orang-orang ini sering disebut atau menuyebutkan dirinya sebagai golongan zindik atau atheis, tidak percaya akan adanya Tuhan.

Jika ada orang yang terperangkap pada keadaan atheist itu, ia seharusnya mencari guru baru, yang bisa menuntunnya pada kebenaran yang sejati. Sikap atheist, biasanya muncul dari kepanikan dan bukan sebuah keyakinan, sebab sikap ini muncul dari orang yang terjebak di dalam percarian atau menjadi korban dari sebuah keadaan, sebagaimana yang dialami oleh Karl Mark dan Nietche, yang terjebak dalam keadaan buruknya Kristen di lingkungannya.

Keadaan pemikiran penduduk dunia menjadi rumit apabila orang yang belum mencapai akhir pencarian menganggap dirinya telah sampai sehingga ia berhenti mencari dan mengabarkan kabar dusta yang menyesatkan banyak manusia lain, baik di zamannya mahupun di zaman sesudahnya, seperti yang terjadi pada Karl Mark dan Nietche.

Sekiranya kedua orang ini sempat bertemu dengan orang seperti Al Ghazali, Jalaluddin Rumi, Hamzah Fansuri, atau Mahatma Ghandi, –mereka berdua tidak akan menjadi filsuf yang tersesat dan menyesatkan–, tentu sejarah dunia akan lain. Tingkatan setelah filsuf tersesat adalah filsuf sang sufi. Ini jika tingkatan filsuf itu kita bagi tiga. Pertama, si serba tahu dan selalu benar. Kedua, si atheist. Ketiga, orang bijaksana yang sufi.

Tingkatan untuk para pemula adalah filsuf yang merasa maha tahu. Orang semacam ini menyibukkan dirinya dengan bicara filsafat dan pemikiran kepada setiap orang yang dijumpainya. Ia bicara dengan berapi-api, dan pembicaraannya selalu mengikuti sebuah pendapat dari para filsuf idolanya yang ia yakini benar seperti nabi yang tidak pernah salah–tetapi ia menganggap itu pendapatnya sendiri–.

Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari filsuf tingkat pertama dan kedua. Kita mohon supaya muncul filsuf tingkat tiga, sang filsuf sejati, di negeri ini. Sekiranya sebuah negara punya para filsuf sejati, niscaya peradaban di negara tersebut akan maju dan berada di antara negara maju, kemanusian dan alam akan terjaga dengan baik.

Thayeb Loh Angen, peminat Filsafat, Penulis Novel Aceh 2025

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar