TERKINI
GAYA

[Feature] Ketika Smong Hantam Pante Raja

Hal yang membuat hati saya semakin sedih dan terenyuh, saat melihat mayat seorang anak kecil yang dibalut daun pisang dalam pangkuan seorang laki-laki dewasa.

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 6 menit
SUDAH DIBACA 993×

DI PAGI yang cerah, Ahad, 26 Desember 2004, sekitar pukul setengah delapan, saya dengan menggunakan sepeda motor (sepmor) mengantar kakak ke Sigli. Rencananya kakak saya ingin mengantar jamaah haji dari kabupaten Pidie ke Banda Aceh. Di hari itu juga saya dan Ibu ingin mengunjungi abang yang sedang 'meudagang' di Dayah yang terletak di kaki bukit, tepatnya di Gampong Bidok, Ulim, Pidie Jaya.

Tiba-tiba, sepmor yang saya kendarai goyang. Saya berpikir goyangan itu disebabkan oleh ban sepmor yang kekurangan angin. Dengan kecepatan sedang, saya terus melaju tanpa memperdulikan sepmor yang bergoyang.

Hai nyak ka dong,” seorang Bapak yang berada di luar warung kopi berteriak ke arah saya.
“Gempa,” ia menambahkan.

Saat itu saya tersentak dan sadar kalau sepmornya goyang bukan karena angin ban yang sedikit, tapi itu dikarenakan gempa.

Sayapun menghentikan lajuan sepmor tepat di pinggir jalan dekat sungai, tepat di depan ruko dua tingkat yang terbuat dari beton. Al hasil, setelah sepmor berhenti, kakak saya langsung turun. Saat itu, dia tidak bisa lagi berdiri, karena memang guncangan gempa sudah semakin kuat. Menurut keterangan warga di situ, ketika kami berhenti, gempa sudah berlangsung sekitar 10 detik.

“Thum..thum..thum..”
Suara ledakan terdengar.

Peue jimeuprang teungoh-teungoh geumpa,” saya membatin.

Perlu diketahui, saat itu, Desember 2004, Aceh masih merupakan daerah gejolak perang di mana masyarakatnya diwajibkan menggunakan KTP (kartu tanda penduduk) khusus yang ukurannya lebih besar dari ukuran KTP biasa yang berlaku di provinsi lain di Indonesia. Di bagian belakang KTP khusus itu bertuliskan butir-butir Pancasila yang berisikan 5 sila. Masyarakat Aceh sering menyebutnya KTP 'merah puteh', karena memang warnanya yang merah putih, warna dari bendera Indonesia.

Penggunaan KTP khusus itu merupakan kebijakan Pemerintah Indonesia dikarenakan Aceh berstatus daerah darurat sipil, kelanjutan dari DM (darurat militer) yang diberlakukan Presiden Megawati Soekarno Putri untuk menumpaskan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Antara sadar dan tiada, saya melihat air Krueng Baro, sungai yang tak jauh saya berdiri, bergoyang hebat. Ruko yang di seberang jalan pun berguncang kuat. Namun Alhamdulillah, ruko tersebut tidak rubuh walaupun dalam pikiran saya bangunan tersebut akan hancur dan rubuh. Setelah gempa mereda, saya pun kembali melanjutkan perjalanan mengantar kakak ke Sigli.

Dari Sigli, tepatnya dari Masjid Al Falah, masjid tempat berlangsungnya pelepasan jamaah haji, tanpa berhenti lagi, saya langsung pulang, di mana Ibu sedang menunggu saya untuk mengunjungi abang saya yang sedang menimba ilmu agama di dayah.

Sesampainya di rumah, tanpa menghabiskan waktu lagi, saya langsung mengambil barang-barang seperti beras, 'thimpan iem' (kue khas Aceh terbuat dari beras dan pisang yang dihaluskan dengan dikukus (seu op -Aceh) dan keperluan abang saya lainnya yang yang telah disiapkan sedari (sejak dari) malam hari.

Dengan Ibu di belakang, saya memacu sepmor (masih) dengan kecepatan sedang menuju ke Ulim,  kecamatan tempat di mana abang saya belajar ilmu agama berada.

Peu bala lom nyoe, ban lheuh gempa, maken hana diteupeu droe di awak TNI nyoe,” ujar saya saat melihat banyaknya anggota TNI dan mobil panser berbaris di simpang Cubo, Keude Paru, Bandar Baru.

Saat itu saya berpikir, pihak TNI sedang melakukan operasi ke Cubo untuk menyerang markas GAM. Cubo itu merupakan salah satu markas pertahanan GAM yang terkenal dan di situlah Tgk Lah (Abdullah Syafi’ie), Panglima Tertinggi GAM, meninggal tertembak timah panas, tiada berapa lama, hanya sekitar beberapa bulan, setelah utusan Pemerintah RI diterima baik oleh GAM di markas tersebut.

“Muhajir,” seorang dara dengan raut muka yang letih memanggil saya.
Sambil mengerem sepmor dan berhenti saya pun melihat ke arahnya.

“Wahyuni! Apa yang terjadi?” tanya saya menyahuti panggilannya.

“Air laut naik,” ujar Wahyuni, dara yang tinggal di Pante Raja dan juga teman satu sekolah saya.

Mendengar ucapan Wahyuni, saya pun terperanjat. Air laut naik merupakan hal yang aneh dan tidak mungkin menurut saya waktu itu.

Setelah Wahyuni menjelaskan dengan rinci apa yang terjadi, baru saya mengerti kenapa mobil panser TNI berbaris di tepi jalan simpang Cubo. Rupanya mereka dikerahkan untuk membantu dan mengungsikan masyarakat yang terkena bencana air laut naik (smong).

Suara teriakan histeris para Ibu memanggil anaknya, tangisan anak-anak kecil sambil berteriak memanggil-manggil Ibu dan Ayahnya membuat hati saya terenyuh. Hakikatnya, apa yang dimiliki bukan milik kita seutuhnya. Dalam sekejap itu semua akan sirna jika Allah Yang Maha Kuasa menghendaki.

Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, Ibu saya pun membagikan sebagian –walau tak seberapa- “timphan iem” kepada masyarakat yang baru saja dievakuasi dari kawasan smong.

“Kadang meu bu beungoh gohlom lheuh, peu masalah tajok ladom kue nyoe,” ujar beliau menjelaskan kepada saya.

Kondisi yang mengancam, membuat saya tidak bisa melanjutkan perjalanan saat itu. Atas permintaan Ibu saya, akhirnya saya berbalik arah dan singgah di Teupin Raya, tempat di mana Ibu saya menghabiskan masa kecilnya bersama neneknya.

Setelah shalat dhuhur dan makan siang di rumah kerabat, saya pun mencoba untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Dayah tempat abang saya “meudagang”. Walaupun tadi pagi tidak dibolehkan melewatinya, namun keinginan saya untuk mengunjungi abang saya pun tetap bersemangat, mengingat hampir dua bulan abang saya belum dikirimi beras.

Debu beterbangan, sampah-sampah berserakan serta tiang-tiang listrik yang miring, bahkan ada yang sudah patah menjadi bukti dahsyatnya hempasan smong yang terjadi di sepanjang jalan Pante Raja – Trieng Gadeng.

“Mohon keikhlasan infak dan sedekah untuk beli kain kafan,” salah seorang warga yang terkena smong meminta derma di jalanan untuk membeli peralatan jenazah, korban hempasan smong.

Rumah rusak dan pohon yang tumbang terlihat di kiri dan kanan jalan. Tak sedikit hewan ternak mati. Hal yang membuat hati saya semakin sedih dan terenyuh, saat melihat mayat seorang anak kecil yang dibalut daun pisang dalam pangkuan seorang laki-laki dewasa.

Menjelang ashar, saya dan Ibu saya pun tiba di dayah tempat abang saya menimba ilmu agama. Setelah shalat ashar saya pun pulang dan menjelang magrib saya sampai ke rumah.

Malam harinya saya menonton berita, hampir semua televisi mengabarkan bencana Aceh. Bencana itu pun menjadi headline (berita utama).

“Aceh diguncang Gempa besar”

“Gempa 9,1 SR mengguncang Aceh”

“Gempa dan tsunami melanda Aceh, 3000 lebih masyarakat meninggal dunia”

Berita baris “running text” di televisi-televisi umumnya -pada hari itu- menulis seperti tulisan di atas. Bencana itupun akhirnya diketahui telah menelan korban mencapai 200 ribu  jiwa di Aceh, menjadi bencana nasional dan duka bagi internasional.[](tyb)

Oleh Muhajir, saksi dahsyatnya akibat bencana smong (tsunami) Aceh, alumnus Sekolah Hamzah Fansuri

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar