TERKINI
TEUNGKU MENJAWAB

Empat Wanita Dalam Lecutan Rotan

BANDA ACEH – Pukul 10.00 WIB, Senin, 20 Maret 2017. Masjid Mukminin Desa Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh sudah mulai ramai. Padahal, prosesi shalat…

ADI GONDRONG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 990×

BANDA ACEH – Pukul 10.00 WIB, Senin, 20 Maret 2017. Masjid Mukminin Desa Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh sudah mulai ramai. Padahal, prosesi shalat Dhuhur masih beberapa jam lagi. 

Di depan masjid itu sudah ada panggung yang ditata sedemikian rupa. Tak lama, sebuah mobil kejaksaan terlihat masuk ke dalam perkarangan masjid.

Dari dalam mobil keluar selusin orang. Mereka adalah para terdakwa yang bakal menjalani hukum cambuk karena melanggar qanun syariat di Aceh. Suara teriakan warga yang menonton pun tak terbendung mengiringi para terdakwa. 

Delapan dari 12 terdakwa ini merupakan pelaku ikhtilat, yang diduga kuat telah berbuat zina. Sementara sisanya adalah penjudi. Tentu saja dari delapan orang pelaku ikhtilat, 4 diantaranya adalah wanita.

Saat pelaku maisir atau judi dicambuk, suasana masih tenang. Masyarakat melihat prosesi itu dengan seksama. Namun, saat pelaku ikhtilat dipanggil, suara krek krok dari penonton tak terbendung. Terlebih saat nama perempuan-perempuan itu dipanggil.

“Cok pajoh nyan, bek gadoh pajoh mangat. Bak ulee neu cambuk,” ucap suara dari kerumunan.

Dalam prosesi kali ini, ada 4 wanita yang dicambuk. Keempatnya itu masuk ke dalam golongan yang melakukan ikhtilat. Menurut Kasatpol PP/WH Banda Aceh, Yusnardi, ihktilat adalah perbuatan yang hampir dikategorikan zina. Namun, tidak ada saksi sehingga tidak dikategorikan zina.

“Ikhtilat itu berindikasi kuat telah berbuat zina, tapi tidak ada saksi. Misalnya, kita temukan mereka sedang berduaan dalam kamar jam 2 pagi. Kalau yang dicambuk ini rata-rata ditemukan dalam kamar kos,” ucap Yusnardi.

Keempat wanita ini meringis sakit saat dicambuk. Rata-rata wanita-wanita ini dicambuk 22 kali sampai dengan 27 kali. Entah karena rasa malu atau rasa bersalah, salah satu dari keempat wanita yang dicambuk ini menutup erat-erat wajahnya dengan tangan. Mereka tertunduk saat merasakan dera rotan ke punggungnya.

Dari luar panggung, suara cacian dan makian terlontar keluar. Bahkan salah seorang warga mengaku malu karena ada salah seorang pelaku ikhtilat itu berasal dari kampung halamannya. “Malee gampong-gampong,” kata dia.[]

ADI GONDRONG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar