ALEPPO – Perang terhadap Negara Islam Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak membatasi apakah dia seorang wanita atau laki-laki. Meski terlahir menjadi kaum hawa, keperkasaan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata.
Mereka tidak segan menghabisi nyawa para kelompok militan dengan caranya sendiri. Seperti Elvira Karaeva. Wanita berdarah Rusia ini menjadi mata-mata dengan sengaja menikahi empat pria ISIS. Selain bertujuan mengorek informasi tentang ISIS, keempat nyawa suaminya dihabisi.
Selain Karaeva, segelintir perempuan perkasa turut memerangi ISIS. Seperti dari tentara Kurdi, jurnalis, hingga pilot.
Berikut empat perempuan perkasa berani melawan ISIS di medan perang yang dirangkummerdeka.com dari beragam sumber:
1. Ceylan Ozalp, Takut ditawan ISIS, tentara perempuan Kurdi pilih bunuh diri
Ceylan Ozalp, 19 tahun, tentara perempuan asal Kurdi menembak dirinya sendiri dengan peluru terakhir saat baku tembak dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pekan lalu.
Dia dikabarkan dikepung pasukan ISIS di dekat Kota Kobane, Suriah. Dalam keadaan terjepit itu dia kehabisan amunisi dan melaporkan lewat radio dia
ingin mengucapkan selamat tinggal dengan peluru terakhir, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Ahad 5 Oktober 2014.
Peristiwa bunuh diri Ozalp, diikuti pemenggalan tujuh pria dan tiga perempuan oleh tentara ISIS di Kobane itu beredar di sejumlah situs media Turki dan sontak menuai kecaman dari pengguna media sosial.
Dalam wawancara dengan BBC bulan lalu Ozalp mengatakan, “Kami tidak takut pada apa pun. Kami akan berperang hingga tetes darah penghabisan. Kami lebih memilih meledakkan diri kami ketimbang ditawan ISIS.”
Seperti Ozalp, kebanyakan perempuan Kurdi bergabung dengan pasukan gerilya menamakan diri Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG).
Sejumlah laporan menyatakan tentara ISIS kerap menjadikan tawanan perempuan sebagai budak seks atau istri.
2. Ruqia Hassan, Memata-matai ISIS, jurnalis perempuan ini dibunuh ISIS
Ruqia Hassan, dalam liputan terakhir yang ditulis di Facebooknya, dia mengkritik pelarangan jaringan internet berikut Wifi hotspot di kota Raqqa, Suriah. Dalam komentarnya Hassan menulis 'Biar saja putus Internet, merpati pembawa pesan pun tak akan memprotesnya'.
Info kematian jurnalis pemberani ini didapat langsung pihak keluarga dari kelompok militan. Mereka mengatakan Hassan telah dieksekusi di Raqqa saat tengah menjadi mata-mata. tulisan terakhir wartawati ini diterbitkan media lokal Nisan Ibrahim pada 21 Juli 2015. Hassan terkenal dengan liputannya soal demonstrasi menuntut revolusi dan serangan udara di Raqqa.
3. Elvira Karaeva, Mata-mata wanita Rusia dieksekusi ISIS usai nikahi empat jihadis
Perempuan mata-mata Rusia dieksekusi militan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) usai berpura-pura menjadi pengikut mereka selama empat tahun. Elvira Karaeva (28) dilaporkan memiliki empat suami jihadis yang masing-masing tewas secara misterius.
Diberitakan koran the Daily Mail, Kamis (19/5), sepanjang aksinya menyelinap bersama kelompok militan, banyak informasi yang dibocorkan kepada Rusia, termasuk pembunuhan tujuh militan adalah info darinya. Karaeva dicap ISIS sebagai 'janda hitam', lantaran memiliki tujuan membunuh tiap pria yang menikahinya.