BANDA ACEH – Teja Irfan, Teuku Afrizal Rais, Muhammad Rizal Maulana, dan Amna Riski, keempatnya 21 tahun. Mereka melahirkan teknologi baru mesin pengolah limbah plastik. Dari botolan menjadi biji plastik.

Keempat mahasiswa ini berasal dari Jurusan Mekatronika, Politeknik Aceh. Berawal dari kondisi Aceh saat ini tentang sampah yang tidak terurai, empat sekawan tersebut mencetuskan ide untuk membuat alat pengolah sampah menjadi berkah.

“Awalnya kami melihat kondisi di Aceh, plastik yang tidak bisa terurai. Lalu kami olah menjadi biji plastik, nantinya yang kami olah ini menjadi produk setengah jadi yaitu diolah lagi menjadi bahan dasar pembuatan tali rafia,” kata Teja saat ditemui portalsatu.com di arena TTG di Banda Aceh, Minggu, 11 Oktober 2015.

Muncul ide awalnya, kata Amna, melihat dari mesin yang pernah ada di Aceh yang mengolah sampah tetapi belum menghasilkan produk lagi yang bisa digunakan, hanya sebatas mengolah sampah saja.

“Jadi kami setelah mengolah, bisa digunakan lagi botol-botol plastik itu, dan menjaga lingkungan. Nanti kami akan melanjutkan tahap kedua yang merupakan lanjutan dari tahap pertama ini, ” ujarnya.

Mesin ini bekerja tiga tahap, awalnya botol plastik digunting kecil-kecil lalu dimasukkan dalam mesin, diolah hingga meleleh, dan dikeraskan seperti tali nilon panjang, digunting kecil-kecil lagi untuk dijadikan bahan dasar tali rafia.

“Mesin ini baru saja diluncurkan empat bulan yang lalu usai lebaran Idul Fitri,” kata Teja.[]