BANDA ACEH – Penulis buku Ragam Citra Kota Banda Aceh, Dr Kamal Arif, sepakat dengan ide kalangan aktivis sejarah di Aceh yang hendak mengembalikan kejayaan Gampong Pandé. Dia juga setuju wacana membangkitkan kembali komunitas pandé (ahli pertukangan) Aceh.
Kamal Arif dalam siaran pers yang dikirimkan komunitas Peusaba menilai karya komunitas pandé pada dahulunya tidak kalah hebat dibandingkan produksi luar negeri. Salah satunya adalah meriam-meriam yang diproduksi di Aceh.
“Meriam-meriam produksi Aceh yang kini tersimpan di museum militer di Bronbeek Arnheim, Belanda, sangat tinggi kualitas craftmenship (ketrampilan) nya. Saya pernah melihat ukiran-ukiran pada meriam Aceh yang lebih menarik daripada ukiran pada meriam “Lada Sicupak” hadiah dari Sultan Turki. Ratu Belanda pun di masa kolonial mengenal dengan baik hasil tempahan emas Aceh,” kata Kamal Arif, Senin, 11 September 2017.
Ketua Majelis Adat Aceh perwakilan Jawa Barat ini menilai ide untuk mengembalikan marwah Gampông Pandé sebagai kawasan historic, cultural, enviromental dan sekaligus working waterfront tentunya tak kalah hebat jika dibandingkan proyek sampah dan tinja. Menurut Dr Kamal Arif, ide tersebut justru lebih hebat dibandingkan proyek sampah dan tinja yang telah mendapat anugerah kesuksesan dari pemerintah Pusat.
“(Ide mengembalikan marwah Gampông Pandé) akan lebih berhasil karena disupport oleh asoe lhôk dan masyarakat sekitarnya, seperti nelayan Lampulo, yang juga amat potensial untuk dibangun menjadi pelabuhan ikan yang handal dan memiliki fisherman wharf khas Aceh,” kata Arsitek anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ini.
Meskipun demikian, Dr Kamal Arif meminta para pihak untuk kembali melihat warisan kearifan lokal jika hendak mewujudkan pembangunan fisik di kawasan ini. Berdasarkan catatan sejarah diketahui adanya pemindahan istana dari kawasan Gampông Pandé ke Darud Donya (wilayah keraton sekarang).
“Imaginasi futuristik Sultan Alaidin Mahmudsyah 800 tahun yang lalu, menjadi terbukti kehebatannya saat tsunami meluluhlantakkan Gampông Pandé pada 26 Desember 2004, sementara terjangan ombak tsunami berhenti di kawasan Keraton,” kata Kamal Arif selaku penasehat Peusaba.
Menurutnya, dengan landasan tersebutlah sudah seharusnya kawasan Gampông Pandé ini tetap dipertahankan sebagai kawasan wisata kota pusaka, yang dapat menginspirasi kebangkitan kembali komunitas craftmanship Aceh. Tentu saja dengan tetap mempertimbangkan bahaya tsunami di masa datang.
Dia mengatakan sebagai kawasan heritage, Gampông Pandé tidak alergi dengan pembangunan baru. Namun, menurutnya, setiap fungsi baru yang akan dibangun di kawasan itu hendaknya serasi dengan nilai sejarahnya yang sangat signifikan.
“Kita dapat gunakan konsep “infill structure: fitting the new buildings/facilities with old”. Sehingga segala bentuk pembangunan yang baru akan serasi dengan nilai-nilai sejarah dan aset-asetnya yang tersimpan di tempat itu,” ujarnya lagi.
Arif berharap peta rekonstruksi tata ruang di masa kesultanan Aceh dapat segera dibuat untuk menghindari kecelakaan, seperti yang terjadi pada proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah atau IPAL. Menurutnya salah satu teknik yang bisa dipergunakan adalah scanning georadar, yang dapat mempercepat proses pembuatan peta rekonstruksi kawasan Gampông Pandé tersebut.
“Dengan disertai pembacaan sejarah dan ingatan kolektif warga setempat,” kata Dr. Kamal Arif.[]