Gubernur Aceh dalam pidatonya di Musyawarah Rencana Pembangunan atau Musrenbang kemarin memaparkan sejumlah 'prestasi' yang telah dilakukan Pemerintah Aceh selama ini. Misalnya Pemerintah Aceh adalah perencana pembangunan yang bagus. Pengelola anggaran yang mumpuni. Tentunya dengan berbagai indikator yang disampaikan.
Membaca berita tentang itu kita seolah-olah sedang berada di negeri dongeng. Pasalnya pidato itu menyulap berbagai hal yang pahit menjadi sebuah kisah manis semanis madu. Tapi benarkah kabar itu? Apakah indikatornya bisa dipertanggungjawabkan? Apakah rakyat sudah merasakah 'keberhasilan' itu?
Sungguh, Aceh era sekarang seperti sedang berada di era orde baru. Pemerintah hanya memunculkan yang baik-baik saja. Rakyat tertipu sekaligus terhibur dengan dongeng. Walaupun sebenarnya perut mereka hanya terisi setengah.
Tragisnya kondisi itu terjadi di saat Aceh dipimpin oleh mantan pemberontak, baik di eksekutif dan legislatif. Mereka ini dulunya berada di garis depan melawan order baru. Tapi ketika tampuk kekuasaan berada di tangan mereka kondisinya tampak setali tiga uang. Mereka meng-copy paste perilaku 'musuhnya' di masa lalu. Bahkan lebih buruk.
Kembali ke soal ekspose berita terkait Pemerintah Aceh. Benarkah perencanaan pembangunan Aceh sangat baik? Mari kita lihat kenyataannya dan bertanya pada diri masing-masing. Adakah kita merasakan pemerintah hadir dalam hidup kita? Lihatlah ke sekeliling, adakah saudara kita yang miskin sudah makmur sekarang ini? Ataukah usaha kita ada yang semakin maju karena berbagai regulasi dan insentif dari pemerintah?
Apakah kopi, CPO, atau kakao yang menjadi komoditas di daerah kita tidak diangkut lagi sebagai barang mentah ke provinsi tetangga? Di mana letak pabrik padi yang sudah mengolah gabah hasil pertanian kita dengan kualitas terbaik? Coba periksa truk-truk yang hilir mudik ke provinsi tetangga, apakah yang diangkut gabah atau beras? Masihkah kita memasok telur dari Sumatera Utara? Di manakah pedagang kita membeli beras berkualitas yang kita konsumsi sehari-hari?