TERKINI
NEWS

Dirjen Kementerian LHK: Gajah Bukan Hama, tapi Potensi Aceh

Menurut Tachrir, untuk menjaga satwa di Aceh, pihaknya akan membantu mempertemukan pihak donor dengan program lingkungan dan satwa di Aceh.

DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 794×

JAKARTA – Direktur Jenderal Sumber Daya Alam (SDA) dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Dr. Ir. Tachrir Fathoni, M.Sc., mengimbau masyarakat Aceh untuk tidak menjadikan satwa sebagai hama. Akan tetapi, kata dia, jadikan satwa itu potensi yang dimiliki daerah.

“Selama ini satwa seperti gajah masih dianggap hama. Padahal, gajah, badak dan satwa lainnya adalah potensi yang masih ada di Indonesia, terutama di Aceh,” kata Tachrir Fathoni, saat menerima tiga anggota DPR Aceh Teuku Irwan Djohan, H. Muhammad Amru, dan Bardan Sahidi, di ruang kerjanya, Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Rabu, 18 November 2015.

Tachrir menjelaskan, satwa seperti gajah dan badak masih terdapat di Sumatera, terutama di Aceh. Sementara banyak negara, kata dia, tidak memilikinya lagi, seperti badak di Malaysia yang sekarang sudah punah. “Di Aceh masih ada, namun harus dijaga,” ujarnya.

Dirjen juga menjelaskan, gajah dan badak yang tersisa saat ini sangat sedikit, itu pun di Sumatera saja. “Dan gajah paling banyak ada di Aceh,” kata Tachrir.

“Untuk itu, kita bukan mencegah lagi, tetapi soal konflik satwa ini harus mendapatkan solusinya,” ujar dia lagi.

Dirjen SDA dan Ekosistem ini menyambut baik rencana pelaksanaan Kaukus Pembangunan Berkelanjutan Aceh bertajuk “Mitigasi Konflik Satwa Liar di Aceh” yang akan digelar 11 Desember 2015 mendatang.

Menurut Tachrir, untuk menjaga satwa di Aceh, pihaknya akan membantu mempertemukan pihak donor dengan program lingkungan dan satwa di Aceh.

“Nanti kita lihat program perlindungan lingkungan dan satwa di Aceh, kalau baik kita akan mempertemukan donor yang akan membantu pelaksanaan perlindungan satwa,” ujar Tachrir.[]

SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar