Oleh: Suadi Sulaiman
Dia adalah salah seorang pemuda Aceh yang gagah tampan, tangguh dan pemberani serta bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan. Dia adalah H. Muzakir Manaf.
H. Muzakir Manaf lahir di Seunudon Aceh Utara, 3 April 1964. Kini usianya meranjak pada 52 tahun, dia pun menyatakan diri maju sebagai salah satu calon kepala pemerintahan atau yang disebut gubernur Aceh periode 2017-2022 dalam kontestan pilkada Aceh 15 Februari 2017 mendatang.
Pilkada Aceh 2017 merupakan yang ketiga kali pasca Aceh damai. Untuk periode pertama Aceh damai gubernur dijabat oleh Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar (pilkada 2006) dan kedua dimenangkan oleh Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, pasangan yang disingkat ZIKIR ini mendapatkan nomor urut 5 dalam pilkada tahun 2012.
Untuk pilkada 2017, H. Muzakir Manaf yang dikenal sebagai panglima Teuntara Neugara Atjeh (TNA) mengambil alih untuk mencalonkan dirinya sebagai kepala pemerintahan Aceh. TNA merupakan sayap militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam menghadapi perang yang dilancarkan oleh pasukan pemerintah Republik Indonesia, yaitu TNI dan Polisi.
H. Muzakir Manaf akrab disapa Mualem. Mualim artinya guru besar, maklum saja karena dirinya salah satu angkatan pertama pemuda Aceh yang mengikuti langsung pendidikan militer di Camp Tajjura Tripoli, Libya tahun 1986.
Dengan pengetahuannya yang tinggi dibidang kemiliteran, mempunyai kemampuan untuk melatih pasukannya serta memiliki itikad dan istiqamahnya dalam memperjuangkan hak-hak Aceh maka Mualem mendapatkan berbagai kepercayaan dari mendiang sang deklarator GAM, Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Tgk. Tjhik Di Tiro Hasan bin Muhammad, termasuk menggantikan posisi Panglima TNA Tgk. Abdullah Syafii yang syahid pada 22 Januari 2002 di pegunungan Pidie Jaya.
Di sini terlihatlah sosok Mualem sebagai penyambung lidah perjuangan Aceh ke depan, yang mengantarkan negeri leluhur kepada keadilan, kemakmuran, kesejahteraan, bermartabat dan berwibawa secara kaffah dalam wadah perintah agama. Belum selesai suatu perjuangan, jika tujuan dari perjuangan tersebut belum tercapai, antara lain amanah almarhum Wali Nanggroe yang belum tuntas kita jalankan, perjuangan Wali dulu lebih besar kepada perjuangan Aceh ketimbang kepada keluarganya.
Sikap terpuji yang Wali miliki kini sangat melekat pada tubuh Mualem. Almarhum Wali juga menitipkan amanah-amanahnya pada Mualem, antara lain Aneuk ulon Muzakir, lidah ulon ka ulon koh dan ulon sambong bak gata, bungkoh njoe ka ulon bungkoh dan ulon peu-djaroe bak gata, peue hase gata gulam?/ Anak saya Muzakir, ini lidah saya sudah saya potong dan saya sambung pada lidah Anda, semua ini telah saya bungkus, apakah bungkusan ini sanggup Anda terima?
Mualem menjawab, Insja Allah, ubena mampu ulon Wali, ulon peutimang/ Insya Allah, semampu saya tetap saya laksanakan.
Saat Mualem sudah naik tangga pesawat, (almarhum) Wali Nanggroe kembali memanggil. Muzakir, keunoe ta treun djilee siat treuk, peue mantong jang kalheuh ulon peurunoe bak gata dan meunjo na jang hana muphom, gata meurunoe bak ulama-ulama jang na di nanggroe Atjeh/ Muzakir, kemari Anda turun sebentar lagi, apa saja yang sudah saya ajarkan dan jika ada yang Anda tidak paham, maka Anda belajar lagi pada semua ulama yang ada di Aceh”.